Kehidupan sering kali tampak berwajah ganda dan paradoks. Ada yang menjalaninya dengan kesuksesan dan kebahagiaan. Sebaliknya dan jumlahnya pun tidak sedikit, menjalaninya dengan kerumitan, berliku, dan sering kali terbentur pada jalan buntu.
Menu kehidupan ini, selain ada yang positif, produktif, konstuktif dan penuh kebahagiaan, ada pula yang negatif, destruktif, dan penuh penderitaan. Setiap manusia dibekali potensi dahsyat untuk memilih yang terbaik. Hanya saja, selain itu, manusia pun diberikan kebebasan untuk menggunakan potensinya dengan sebaik-baiknya atau tidak, begitu pun jalan yang akan dilalui, ada kebebasan untuk memilih.
Pada mulanya, kehidupan yang ditandai oleh Adam-Hawa pun di muka bumi ini, menghadapi kehidupan yang negatif, destruktif dan rumit. Penanda utamanya, ketika anak keturunannya Habil-Qabil mewarnai kehidupan ini dengan merahnya pertumpahan darah. Inilah embrio pertama dan utama kekerasan, keserakahan, kebencian, dan berbagai hal destruktif lainnya yang dialami oleh manusia tanpa kecuali yang dinamai homo sapiens hari ini.
Ada yang bisa terbebas atau keluar dari kerumitan hidup. Tidak sedikit jumlahnya, yang terus berada dalam kerumitan. Mereka menjalani kehidupan ini bagaikan labirin. Hanya berputar-putar dalam kehidupan ini tanpa menemukan jalan keluar, sebaliknya setiap langkahnya identik dengan jalan buntu.
Kebuntuan kehidupan semakin diperparah oleh perkembangan kehidupan yang semakin modern dan maju, tetapi juga berwajah ganda, ambigu dan paradoks. Kemajuan teknologi, tidak hanya menjanjikan dan menjamin kemudahan, efektivitas, dan efesiensi kerja. Namun, menimbulkan pula banyak persoalan, di antaranya: kehidupan yang sarat dengan karakter instan; post truth dan hoax; dan mengalami FOMO (Fear of Missing Out) atau takut mengalami ketertinggalan terhadap sesuatu yang kurang atau tidak bermakna.
Bahkan kehidupan hari ini, sebagai konsekuensi kemodernan dan kemajuan telah menjebak manusia ke dalam ekstasi kecepatan, mengabaikan kedalaman, dan pikiran-pikiran kritis serta tajam. Batas-batas kehidupan telah sulit lagi ditemukan, sehingga sulit lagi membedakan antara negarawan dan pecundang, riya dan ikhlas, mainan dewasa dan anak-anak, dan berbagai batas kehidupannya lainnya.
Disadari atau tidak, tubuh pun mengalami kekacauan organisme, dan ini telah menjadi hal nyata dalam kehidupan. Ada kecenderungan dengkul telah menjadi otak, sehingga hari ini, kita lebih sering bertindak ketimbang berpikir. Mata telah menguasai otak, sehingga lebih cenderung menonton ketimbang merenung.
Kerumitan tersebut bukan hanya bersifat personal atau hanya dialami oleh seseorang atau segelintir orang. Yang bersifat kolektif pun sangat nyata. Dalam konteks demokrasi dan politik pun, sebagai contoh, banyak hal negatif dan destruktif terjadi, Namun, aktor-aktor utama yang berperan di dalamnya seakan-akan hanya menuju jalan buntu. Politik uang pun terasa seperti kentut, hanya berbau dan terdengar tetapi sulit ditangkap, sehingga tidak ada jalan keluar. Dari pemilu ke pemilu, begitu pun dari pilkada ke pilkada, persoalan politik uang pun selalu saja identik dengan jalan buntu.
Apakah di balik labirin kehidupan ini, tidak ada lagi jalan keluar? Apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, sesungguhnya ada jalan keluarnya. Membaca mitologi Yunani saja kita bisa memahami dengan baik ternyata di balik labirin masih bisa ditemukan jalan keluar.
Secara singkat dari mitologi Yunani kita bisa memahami, bahwa Theseus berhasil keluar dari labirin yang dibuat oleh Daidalos dan berhasil menikahi Ariadne anak perempuan Minos, Raja Kreta. Theseus bisa keluar dari labirin dengan menggunakan bantuan gulungan benang yang diberikan oleh Ariadne.
Cara Theseus adalah dengan mengikatkan salah satu ujung gulungan benang tersebut di pintu masuk labirin. Setelah sampai di dalam Theseus pun keluar dengan menyusuri benang tersebut. Kehidupan hari ini pun, ada hal yang bisa dianalogikan sebagai Benang Ariadne untuk digunakan sebagai instrumen terbaik keluar dari labirin kehidupan.
Bukan hanya Theseus dalam mitologi Yunani yang bisa keluar dari labirin kehidupan. Dalam kehidupan nyata pun, sepanjang bentangan sejarah kehidupan, kita bisa menemukan banyak sosok yang bisa keluar dari labirin kehidupannya, baik yang secara personal maupun berdampak kolektif.
Karen Armstrong, penulis buku, Sejarah Tuhan, melalui buku karyanya yang lain, Menerobos Kegelapan: Sebuah Autobiografi Spiritual, kita bisa menemukan bagaimana Armstrong bisa keluar dari labirin kehidupannya. Kehidupannya terutama kehidupan spiritualnya pernah mengalami kerumitan yang sangat rumit. Bahkan, dirinya memutuskan untuk meninggalkan biara Katolik Roma yang telah tujuh tahun dijalaninya.
Dari Viktor E. Frankl pun melalui bukunya, Man’s Search For Meaning, kita bisa memahami bagaimana Frankl bisa keluar dari labirin kehidupannya. Modal, jalan, dan/atau “benang” apa yang digunakan oleh Frankl untuk keluar dari labirin kehidupannya tersebut.
Rasululllah Muhammad saw pun sebelum dinobatkan sebagai rasul, di balik kejahiliyahan kehidupan sekitarnya merasakan bagaikan labirin. Oleh karena itu, Rasulullah sering kali ke Gua Hira berdiam diri untuk menemukan titik temu atau jalan keluar menuju harapannya di balik kondisi kehidupan sekitarnya yang sangat memprihatinkan. Secara filosofis bisa dipahami, bahwa sikap dan tindakan Rasullullah di Gua Hira tersebut, adalah menemukan “benang” jalan keluar dari labirin.
Ternyata Rasulullah menemukan hal terbaik yang sesungguhnya itu adalah “benang” terbaik—sebagaimana dalam gambaran mitologi Yunani—untuk keluar dari labirin kehidupannya. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi kehidupan umat secara kolektif. Rasulullah melalui perantara Malaikat Jibril diberikan perintah oleh Allah, yaitu iqra.
Iqra, ketika kita memahami dan menyelami kedalaman tafsir Quraish Shihab, kita bisa memahaminya, bahwa secara potensial dan fungsional—meskipun saya sendiri masih menempatkan posisi/maqamnya masih lebih tinggi iqra—itu adalah “literasi”. Literasi melampaui dari sekadar komunitas.
Literasi melampaui dari sekadar defenisi teknis atau terjemahan operasional dari enam literasi dasar. Literasi dalam defenisi dan makna harus sampai pada puncak pemahaman, kesadaran, implementasi dan implikasi sebagai “navigasi labirin kehidupan”.
Navigasi pun bukan sekadar dalam makna harfiah sebagaimana konteks revolusi industri 4.0, yang sekadar petunjuk arah dan membantu untuk sampai ke alamat tujuan. Makna navigasi pun dalam konteks tulisan ini, harus minimal sebagaimana dalam makna pemahaman era society 5.0, di mana berorientasi kemanusiaan, sehingga selain menjadi petunjuk arah, juga memberikan jalan alternatif dan terbaik untuk mencapai tujuan.
Literasi bisa menjadi “benang Ariadne” sebagaimana yang digunakan Theseus dalam mitologi Yunani tersebut. Literasi tentunya tidak selamanya memiliki muatan teologis, religious, dan spiritual. Alasan inilah, sehingga iqra bismi rabbika posisinya masih jauh lebih tinggi, karena mengandung dimensi spiritual, religious, dan teologis. Sedangkan manusia pun memiliki dimensi tersebut.
Persoalan literasi di bangsa kita, memang masih sering kali berada pada posisi buncit. Masih sangat memprihatinkan. Prof. Haedar Nashir pun pernah menegaskan, “Lebih mudah mengajak orang untuk pergi melakukan demonstrasi ketimbang mengajak orang untuk pergi membaca di perpustakaan”.
Lelucon aneh pun bisa kita temukan yang menggambarkan betapa rendahnya tingkat literasi bangsa kita, Indonesia. Katanya, untuk membedakan orang Indonesia dan bukan di luar negeri, itu bisa dilihat ketika sedang menunggu di ruang-ruang publik seperti terminal. Orang Indonesia, jika sedang menunggu maka asyik dengan gadget-nya dan itu pun lebih banyak main game. Yang bukan orang Indonesia, itu asyik dengan membaca buku.
Padahal menurut Maman Suherman, seorang penggerak literasi nasional, negara dengan tingkat literasi terbaik di dunia seperti Finlandia, tercatat pula sebagai negara paling bahagia dan paling rendah tingkat korupsinya. Sekilas dari ini saja, kita bisa menemukan dengan jelas bahwa literasi memiliki korelasi positif dengan tingkat kebahagiaan dan tingkat korupsi suatu negara.
Pantas saja negara kita, tingkat korupsinya sangat tinggi, begitu pun tingkat kebahagiaannya masih sangat rendah karena literasinya pun masih sangat rendah. Hal ini pun bisa mempertegas betapa pentingnya literasi dan literasi itu adalah, “Navigasi labirin kehidupan”.
Dalam sejarah perjalanan Indonesia, para founding fathers yang mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan dan menjadi negara merdeka, mereka adalah sosok yang sangat tinggi tingkat literasinya. Hidupnya sarat dengan membaca, menulis, dan buku. Bahkan seorang pendiri bangsa menegaskan “Aku rela dipenjara asalkan bersama dengan buku”.
Sejarah perjalanan Islam pun, jika kita ingin jujur mengakui, sehingga pernah mengalami kejayaan yang luar biasa dalam peradaban dunia, itu sangat identik dengan literasi. Bahkan kegelapan abad pertengahan yang dialami oleh Barat dan Eropa, diselamatkan oleh Islam melalui literasi dalam hal ini yang lebih tinggi adalah iqra bismi rabbika.
Sebagaimana pernah diulas oleh Alwy Rachman dan ditegaskan kembali oleh Sulhan Yusuf (Kak Sulhan, sebagai sapaan akrab saya), bahwa empat Skill yang sangat dibutuhkan abad 21 pun, hanya bisa terwujud atau dimiliki dengan terlebih dahulu menuntaskan persoalan literasi dalam diri terutama 6 literasi dasar.
Literasi, terutama dalam konteks iqra bismi rabbika akan senantiasa memberikan titik terang tentang sejarah dan komitmen ilahiah yang mengawali kehidupan kita di dunia. “alastu bi rabbikum” dan “qaaluu balaa syahidnaa” sesungguhnya bisa menjadi “benang Ariadne” yang akan diikatkan diawali perjalanan kehidupan kita, untuk kemudian terus menuntun kita dalam menyusuri kehidupan.
Sesungguhnya kerumitan terutama kehancuran atau potensi destruktif terbentuk dan lahir dalam kehidupan ini, karena “Benang Ariadne” dalam makna komitmen ilahiah itu tidak berfungsi, sehingga hukum pun berjalan tanpa etika. Demokrasi dan politik terjerumus dalam keserakahan, begitu pun dengan kemodernan dan kemajuan lainnya lahir dari orang-orang yang melupakan komitmen ilahiahnya dan kemanfaatan universalnya sebagai makna fungsional dari mandat kosmik, selaku khalifah.
Kredit gambar: depositohotos.com

Pemilik Pustaka “Cahaya Inspirasi”, dan Wakil Ketua MPI PD. Muhammadiyah Bantaeng. Pegiat Literasi Digital dan Kebangsaan. Pimpinan BAZNAS Kabupaten Bantaeng Masa Jabatan 2025-2030.


Leave a Reply