Kehidupan yang kita jalani sesungguhnya bukan hanya “hitam-putih”. Meskipun, dalam konteks politik dan keindonesiaan hari-hari belakangan ini, seringkali pandangan “hitam-putih” itu yang terjadi dan mendominasi.
Kehidupan ini beraneka warna. Walau demikian, seperti apa pun dinamika dan situasi yang dirasakan dan dialami, itu berada atau bisa dipahami melalui mekanisme kerja, hukum dan/atau prinsip algoritma, sunnatullah, dan hak prerogatif Allah.
Lebih awal yang harus kita pahami melalui tulisan ini, karena itu penting, bahwa mekanisme kerja, hukum dan prinsip algoritma dan sunnatullah pun tentunya adalah bagian dari kendali atau pun pada asal penciptaannya dari Allah. Algoritma yang saya maksudkan di sini, bukan hanya sebagaimana yang kita pahami dalam bahasa pemprograman dan yang bekerja dalam aplikasi atau teknologi digital—sebagai buatan manusia.
Jika kita membaca pandangan Yuval Noah Harari, penulis buku bestseller Sapiens, dalam buku karyanya Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia (2019), kita akan memahami bahwa apa yang dimaksud dengan algoritma bukan hanya bekerja dalam dunia teknologi digital tetapi termasuk bekerja dalam diri manusia. “Algoritma adalah seperangkat langkah metodis yang bisa digunakan untuk melakukan kalkulasi, pemecahan masalah, dan mencapai keputusan-keputusan”, ini pengertian sederhana dari Harari.
Lebih lanjut bisa dipahami dari Harari, sebagai contoh saja: algoritma yang mengendalikan mesin penjual (seperti mesin penjual minuman yang ada di bandara) berbasis digital, itu tentunya bekerja dengan gir-gir mekanik dan sirkuit elektrik dengan bahasa pemprograman yang telah “ditanamkan” di dalamnya; algoritma yang mengendalikan manusia bekerja dengan sensasi-sensasi, emosi-emosi, dan pikiran-pikiran. Saya tambahkan, meskipun bisa saja sudah dipandang menjadi bagian dari ketiganya, yaitu harapan-harapan, dan niatan-niatan.
Sunnatullah secara sederhana, salah satunya bisa dipahami dari pandangan Dr. Asep Zaenal Ausop, penulis buku Islamic Character Building, adalah hukum alam. Contoh sederhananya bahwa api itu bisa membakar, jadi jika seseorang memasukkan tangannya ke dalam api tanpa pelindung anti, maka bisa dipastikan tangannya akan terbakar sampai gosong dan akhirnya hancur. Dalam hukum alam atau sunnatullah ini mengandung prinsip kausalitas, hukum sebab-akibat. Begitu pun, dalam pandangan saya, algoritma tadi mengandung pula hukum sebab-akibat, yang dalam bahasa alur algoritma pemprograman teknologi digital dikenal rumus “jika”, dan “maka”.
Jika dalam kehidupan ini ada seseorang yang merasakan kebahagiaan atau kesedihan, sukses atau gagal, dan mendapatkan peluang atau rintangan—jika kita merenungkan dan mendalaminya berada dalam ketiga atau satu di antara tiga mekanisme kerja, hukum dan prinsip di atas: algoritma, sunnatullah, dan/atau hak prerogatif Allah. Bahkan bagi saya, Indonesia dipimpin oleh siapa, itu bisa dipahami dari ketiganya (baca: algoritma, sunnatullah, dan hak prerogatif Allah).
Seringkali kita keliru dalam kehidupan ini dengan berpikir sempit dan parsial. Sikap kita ini juga sesungguhnya seakan menciderai dimensi kemanusiaan kita yang bukan hanya berdimensi tunggal tetapi multidimensi: sebagai makhluk fisik-biologis, psikis, spiritual, dan religious. Tidak sedikit di antara kita dalam menjalani kehidupan hanya mengandalkan ikhtiar duniawi dan bersifat teknis-prosedural semata, hanya fokus pada kehidupan hari ini atau saat ini. Bahkan, banyak motivator yang memberikan rekomendasi strategis tentang langkah hidup bahagia adalah hidup dengan fokus pada hari ini.
Meskipun yang di atas itu berasal dari rekomendasi motivator terkemuka dunia, saya pribadi tidak menyimpulkan salah dan/atau keliru, tetapi ketika saya mereungkan sebelum dan sesudah menulis tulisan ini, itu tidak tepat. Dalam hidup ini dibutuhkan ikhtiar sekaligus doa. Hidup ini adalah rentetan kejadian dari masa ke masa atau akumulasi dari dinamika, pergumulan dan pergulatan hidup sepanjang masa.
Sebagaimana yang telah saya tegaskan pada bagian di atas, jika Allah mau melalui hak prerogatifnya maka bisa saja hukum kausalitas, prinsip dan mekanisme kerja algoritma dan sunnatullah tidak berlaku. Di sinilah peran doa selain sebagai bagian yang memengaruhi proses algoritmik dalam diri, jika kita mampu memahami pandangan Harari di atas.
Mengapa kita tidak fokus saja berdoa untuk mendapatkan hak prerogatif Allah agar mengintervensi hukum dan prinsip algoritma dan sunnatullah supaya semua terjadi sesuai harapan yang dicurhatkan dalam doa? Mengapa kita tidak fokus berdoa saja agar keajaiban-keajaiban seperti yang dirasakan oleh Nabi Ibrahim yang tidak terbakar api, bisa sering terjadi dalam kehidupan?
Allah memegang semua rahasia dan jawaban atas pertanyaan di atas. Namun, yang pasti Allah pun memberikan konsep kebebasan kepada manusia dalam menjalani kehidupannya, terserah memilih jalur yang mana. Selain itu, Allah ingin mengukur ikrar komitmen yang telah diucapkan oleh setiap manusia pada awal penciptaannya. Allah ingin melihat kita untuk berlomba-lomba pada kebaikan. Termasuk apa pun yang telah Allah ciptakan di muka bumi ini, hukum algoritma dan sunnatullah, tidak ada yang sia-sia.
Bagaimana dengan pelaku kejahatan yang berkelimpahan harta dan hidup mewah. Ya, itu juga bisa dipahami dalam proses algoritma dan sunnatullah tersebut. Tetapi kita jangan berkata bahwa “Berarti Allah pun meridai itu?” Saya tetap tidak sepakat dengan ini, artinya Allah tetap membiarkan manusia tersebut menggunakan perangkat dan hukum yang diciptakan oleh Allah di muka bumi untuk digunakan oleh siapa saja dalam mencapai kesuksesannya. Tetapi rida atau tidak, tercatat sebagai amal saleh atau tidak, itu harus tetap dalam koridor hukum dan syariat Allah yang diajarkan melalui agama.
Jadi, kita janganlah heran dan protes ketika menemukan manusia yang terkesan tidak pernah salat lalu menikmati kehidupan dan kesuksesan yang luar biasa. Bisa jadi mekanisme kehidupannya bekerja dalam prinsip dan hukum algoritma dan sunnatullah semata. Seperti siapa yang bersungguh-sungguh dan bekerja keras, maka dirinya akan mencapai kesuksesan.
Sebaliknya jangan kita protes dan merasa tidak mendapatkan keadilan dari Allah ketika telah memaksimalkan ikhtiar dan doa, lalu harapan belum terwujud. Yakin saja ada rahasia di balik itu, ada hikmah setelah itu, dan bisa dipastikan jenis ikhtiar apa pun yang dilakukan akan mengalami mekanisme kerja dalam proses algoritmik dan sunnatullah, tentang hasilnya berlaku dalam ketiganya di atas.
Sampai diuntaian kalimat terakhir di atas, mungkin kita sudah memahaminya dengan baik, bahwa kita tidak akan pernah tahu persis, kapan hak prerogatif Allah hadir mengintervensi semua hukum dan prinsip yang berlaku di dunia, untuk selanjutnya mewujudkan harapan kita. Selain itu, kita pun tentunya sudah memahami seperti apa proses algoritmik yang ada, termasuk sunnatullah yang ada seperti di antaranya apa yang dikenal dengan law of attraction (hukum tarik-menarik) maka dalam kehidupan ini kita harus memperhatikan banyak hal.
Memahami tiga hal di atas sebagai sesuatu yang mengiringi perjalanan kehidupan, maka kita jangan pernah mengabaikan sekecil apa pun sikap, dan perilaku kita. Semua sikap dan perilaku kita sebesar biji atom pun akan memengaruhi ketiganya, akan memengaruhi seperti apa kehidupan yang akan kita alami. Meskipun demikian, kita juga tidak boleh serta-merta menyimpulkan karena dalam kehidupan ini pun berlaku apa yang dinilai sebagai kesuksesan dan kebahagiaan yang tertunda. Allah juga terkadang masih ingin menguji tingkat kesabaran hamba-Nya sehingga harapan-harapan ditunda.
Yang paling sederhana dan perlu mendapatkan perhatian terbaik dari setiap manusia adalah bahwa emosi-emosi, pikiran-pikiran, sikap, harapan-harapan, niatan-niatan, keyakinan-keyakinan, perilaku-perilaku, kebaikan-kebaikan kita, bekerja dalam hukum dan prinsip algoritma dan sunnatullah. Ketekunan kita membaca buku, jenis bacaan, jenis tontonan, jenis candaan, pembicaraan-pembicaraan di mana kita sering larut di dalamnya, fokus kita terhadap jenis peristiwa tertentu, bahkan di era digital, konten-konten yang sering kita tonton, like, komentari, semua itu bisa dipastikan cepat atau lembat akan memengaruhi akumulasi kehidupan yang akan dialami dan dirasakan.
Hak prerogatif Allah pun bisa hadir dalam kehidupan kita, selain karena doa mungkin ada satu pikiran, perbuatan, dan kebaikan kita yang diridai Allah.
Kehidupan ini memang kompleks dan unik, tetapi kita harus memperhatikan dan meyakini sekecil apa pun sikap dan perilaku yang dilahirkan, itu bekerja dalam hukum dan mekanisme algoritma dalam diri, bisa memengaruhi sunnatullah khususnya dalam jenis hukum yang dikenal dengan law of attraction (hukum tarik-menarik). Setelah ini, kita harus memilih, berkomitmen dan konsisten untuk tetap pada jalan kebenaran, kebaikan, dan keindahan, karena ini relevan dengan akal, hati, dan jasad manusia sekaligus sebagai eksistensi manusia yang memiliki garis relasi antara iman, Islam, dan amal.
Cakupan itu sangat luas, agar sahabat pembaca terus tumbuh subur rasa ingin tahunya dalam diri, maka pendalaman dari tulisan ini, bisa menggunakan media, ruang dan waktu lain.
Kredit gambar: https://djulian28.blogspot.com/

Pemilik Pustaka “Cahaya Inspirasi”, dan Wakil Ketua MPI PD. Muhammadiyah Bantaeng. Pegiat Literasi Digital dan Kebangsaan. Pimpinan BAZNAS Kabupaten Bantaeng Masa Jabatan 2025-2030.


Leave a Reply