Pernahkah kita mencoba bertanya ke lubuk terdalam hati kita, berapa sesungguhnya harga anak-anak kita? Kira-kira ada yang mampu menyebutkan nilai nominalnya?
Mungkin saja jawaban yang timbul akan beragam, tergantung seberapa penting dan berharganya anak-anak tersebut di mata orangtua mereka.
Andai setiap orangtua diberikan lembaran-lembaran rupiah bernilai ratusan juta hingga miliaran sebagai konversi dari kehadiran anak dalam hidup mereka, tentunya para orangtua ini akan berubah sikapnya. Menjadi sangat peduli dalam merawat, menjaga, mendidik, dan memperlakukan anak-anak tersebut dengan penuh kasih sayang dan sepenuh hati. Sebab jika tidak sesuai standar yang seharusnya, maka uang tersebut dianggap hangus atau tidak akan mereka dapatkan.
Benarlah manusia sosok makhluk yang materialistis. Tidak mudah mengerjakan kebaikan jika tidak ada iming-iming materinya. Bahkan dalam mengerjakan amal kebaikan pun jika tidak diganjari surga, tampaknya tidak bakalan disambut dengan antusias. Gambaran sosok Rabiah Al-Adawiah tinggal sebatas fatamorgana. Yang mampu mencintai Tuhan tanpa embel-embel di baliknya. Bukan mengejar surga, bukan pula menghindari neraka.
Lalu bagaimana dengan urusan membesarkan dan mendidik anak-anak kita? Yang mana orang-orang merasa tidak perlu berbaik-baik dan berlemah-lembut dengan mereka? Karena dalil-dalil yang banyak berserakan justru sebaliknya. Anak-anak yang dituntut patuh dan taat pada orangtua mereka. Sehingga yang terjadi, banyak orangtua yang merasa mendapatkan pembenaran untuk semena-mena memperlakukan anak. Mereka tidak tahu atau tidak sadar bahwa hukum yang sama berlaku pula untuk para orangtua. Di mana kelak orangtua ini akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat nanti.
Selama ini yang sering didengung-dengungkan hanya ayat dan hadis yang menyuruh anak menghormati dan mematuhi orangtua. Masih sangat minim perintah yang menyuruh sebaliknya. Orangtua menghormati dan menghargai anak. Pemahaman yang berlangsung berabad-abad lamanya, dari generasi satu ke generasi berikutnya. Sehingga terjadilah ketidakseimbangan dalam hubungan anak dengan orangtua. Satu pihak menuntut dihormati dan dipatuhi, tetapi di satu sisi tidak mempraktikkan perilaku-perilaku yang sama. Bagaimana mungkin anak dituntut lebih bijak dari orang dewasa?
Tanpa teladan, tanpa contoh mengasihi dari orangtua, anak diminta memulai untuk melakukan praktik-praktik ketaatan terhadap orangtuanya? Maka akan tampak sangat timpang jadinya. Seolah anak dilahirkan untuk menjadi perpanjangan kaki dan tangan orangtuanya. Maka tak heran jika kita kerap mendengar nada-nada miring dari mulut anak-anak, “saya tak pernah minta dilahirkan”, “andai saya bisa memilih orangtua”, dan komentar-komentar sejenisnya.
Pada kenyataannya akan banyak kasus ketidakpuasan dalam hubungan antarmanusia. Termasuk hubungan anak dengan orangtua. Ada ibu yang sesungguhnya sudah tidak sanggup lagi menambah anak, tetapi dalam ketidakberdayaannya, ia tetap melahirkan banyak anak. Akhirnya anak-anak tersebut tidak mendapatkan perhatian dan perawatan sebagaimana laiknya.
Pertanyaan berikutnya, dari pihak mana kita berharap praktik menghargai, mengasihi, dan mengayomi ini kita mulai? Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, orangtua atau orang dewasalah yang diharapkan dan semestinya mulai mempraktikkan ini. Karena dari strata usia dan sosial, mereka yang pantas memulainya. Bukan justru anak-anak. Allah menjanjikan ganjaran yang tak dapat dinilai dengan rupiah bagi para orangtua yang mau merendahkan hati melakukannya.
Seperti janji Allah Swt dalam QS. Al-Isra:31,
Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan (juga) kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka itu adalah suatu dosa yang sangat besar.
Bahkan dalam ayat di atas, anak yang disebut duluan baru orangtuanya. Artinya memperlakukan anak dengan sebaik-baik akhlak justru akan menjadi sumber dan penarik rezeki bagi orangtuanya.
Jika sudah mendapatkan jaminan dari Yang Mahakuasa, Mahakaya, Maha Pemberi Rezeki lewat kehadiran anak-anak kita, maka alasan apa lagi yang menghalangi kita untuk mengasihi, menyayangi, dan menghargai mereka?

Konsultan Parenting. Telah menulis buku, Dari Rumah untuk Dunia (2013) dan Metamorfosis Ibu (2018)


Leave a Reply