Jarang orang Bantaeng yang mengetahui, bahwa sosok La ban doe/Labandoe/Labandu itu ada dua orang. Sosok Labandoe yang pertama yang juga akrab disapa Guru Bandu, adalah seorang bangsawan keturunan Kerajaan Wajo yang memilih menetap di Bantaeng. Dari turunan keluarganya inilah, yakni cucu buyutnya, juga lahir seorang tokoh kesehatan besar di Bantaeng yang Bernama Prof. Dr. H. Anwar Makkatutu, yang namanya kini diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Kabupaten Bantaeng.
Sosok Labandoe yang kedua adalah Labandoe/Labandu yang merupakan ayah dari pengusaha-pengusaha besar Bantaeng seperti Irwan Labandu, Thamrin Labandu, Tasrif Labandu (H. Ondong), dan Guntur Labandu. Labandoe/Labandu yang kedua ini adalah cucu buyut dari Labandoe/Guru Bandu yang kita bahas pertama di atas. Ia juga masih saudara kandung dari Prof. Dr. H. Anwar Makkatutu. Jadi bila ingin dibuat silsilah secara sederhana, urutannya kurang lebih seperti ini.
Labandoe (Guru Bandu) adalah peletak pertama keluarga. Ia menikah dengan seorang wanita asli Bantaeng, lalu melahirkan beberapa orang anak, yang salah satunya Bernama H. Muhammad Tahir. H. Muhammad Tahir ini kemudian menikah dan memiliki beberapa orang anak, yang salah satu anaknya bernama H. Makkatutu. Dari H. Makkatutu inilah lahir enam orang anaknya yang bernama Alwi Makkatutu, Anwar Makkatutu, Albar Makkatutu, Labandoe, Aminah dan Aisyah. Jadi Labandoe (Guru Bandu) adalah buyut dari Labandoe/Labandu.
Yang akan kita bahas kali ini adalah La Ban Doe (Guru Bandu), sebagai peletak dan cikal bakal dari keluarga besar Labandu-Makkatutu. Guru Bandu ini pada mulanya adalah seorang bangsawan dari Wajo yang entah karena pilihan hidupnya, ia memilih merantau ke Bantaeng. Bekal harta yang dibawanya mungkin lebih dari cukup untuk memenuhi kehidupannya hingga akhir nanti. Tapi ia tak berpangku tangan dan diam saja menikmati harta yang ia bawa. Ia juga tidak mengagungkan priviledge yang dia sandang sebagai seorang bangsawan dan turunan raja dari negeri Wajo.
Seorang Guru Bandu muda tetap menempuh jalan hidup sebagai seorang pedagang. Rutinitas perdagangan yang dia kerjakan bukanlah kaleng-kaleng. Aktivitasnya berdagang hasil bumi ke Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, dia jalankan melalui beberapa armada kapal phinisi yang dia parkirkan di sepanjang pesisir pantai di wilayah Tompong dan Lamalaka saat itu.
Tak butuh waktu lama, jiwa wirausahanya jugalah yang mengantarkan dia menjadi salah seorang tokoh terpandang di Bantaeng pada abad ke-18. Tercatat pula, harta dan aset yang dia miliki meliputi berbagai tempat di seputaran Kota Bantaeng saat itu. Beberapa aset itu seperti Balla’ Bassia dan Balla’ Temboka di Kelurahan Letta (Jalan Bolu), Wisma Malilingi dan bangunan tua di depan Kantor Telkom yang keduanya terletak di Jalan Raya Lanto. Ada juga beberapa bangunan-bangunan tua yang terletak di sepanjang belokan masuk di Jalan Mangga (Kini Viktor Motor).
Aset lain seperti tanah dan sawah miliknya juga tersebar di beberapa titik di Kabupaten Bantaeng, seperti di wilayah pesisir Tompong hingga Lamalaka, di wilayah Pasar Baru Bantaeng (Yang kini juga menjadi makamnya), serta puluhan hektar sawah di Kampung Barayya.
Kekayaan seperti uang dan emas miliknya juga begitu melimpah ruah. Kurnia Alwi, keturunan ke-6 dari Guru Bandu, yang menghabiskan kehidupan kecilnya di Balla’ Bassia, menceritakan bahwa pada bagian plafon dari Balla Bassia, masih terdapat puluhan peti uang dengan ukuran sekitar 100×75 cm, yang merupakan tempat penyimpanan uang dan emas milik Guru Bandu. Meski di masa kecilnya wujud uang itu tidak lagi dia lihat, tapi beberapa pusaka berbalut emas masih rapi di ingatannya memenuhi beberapa sudut di Balla’ Bassia. Dia juga masih mengingat betapa pegal leher dan badannya ketika disunat dulu dan harus dikalungi berbagai aksesoris, seperti kalung dan gelang dari emas dengan total berat puluhan kilogram.
Status kebangsawanan dan kekayaan Guru bandu inilah yang di masa lalu mengantarkannya sebagai seorang Crazy Rich asal Butta Toa Bantaeng. Konon, pernah pada suatu perselisihan, beberapa bangsawan merendahkannya dan menganggap bahwa hartanya belum ada apa-apanya dan akan habis oleh anak-anaknya sendiri. Hal itu pun ia tanggapi dengan santai sembari berkata, uang dan emasku bila kamu jejer, akan sampai ke Butta Mangkasara’, dan kelak, anak cucumu juga akan melihat, bahwa harta dan kekayaanku ini masih akan dinikmati oleh cucu keturunanku yang ketujuh. Dan terbukti, hingga cucu turunannya yang saat ini sudah memasuki turunan kedelapan, beberapa rumah dan tanahnya masih dimiliki oleh para anak cucunya.
****
Nah, apa setelah anda membaca tulisan di atas, anda berpikir bahwa saya sedang menggembar-gemborkan kekayaan dan harta seorang Guru Bandu? Nyatanya tidak. Mari kita membahas pada sisi sosial dan spiritualnya. Apakah karena ia seorang Crazy Rich, lalu seorang Guru Bandu juga menjadi seorang bangsawan yang lupa diri, gemar Flexing dan berfoya-foya membanggakan harta? Nyatanya tidak. Harta dan aset yang dia miliki hanyalah sebagai simpanan yang ia siapkan untuk para anak cucu, dan lebih utama lagi untuk memberdayakan masyarakat di Wilayah Tompong saat itu.
Ia juga tetap menjadi seorang muslim yang saleh dan taat. Ia tetap melaksanakan ibadah haji beberapa kali, terlebih bila ia masih memiliki misi dagang ke beberapa tempat di luar sana yang dekat dengan Makkah. Sebagai seorang yang juga rutin mengunjungi Makkah, ia juga telah membeli beberapa petak tanah dan membangun rumah di sekitar Ka’bah saat itu. Dari info yang digali dari beberapa keturunannya saat ini, rumah itu kini telah diwakafkan dan menjadi bagian dari proyek perluasan wilayah Masjidil Haram
Tak berhenti sampai di situ, sebuah amalan pamungkas juga ia lakukan dalam mengimbangi kekayaannya. Ia menyedekahkan tanahnya dan turut menyumbangkan hartanya untuk membangun sebuah masjid yang kini dikenal sebagai Masjid Taqwa Tompong. Salah satu guci paling berharga miliknya yang merupakan peninggalan Dinasti Ming yang ia bawa dari negeri Cina juga ia persembahkan pada masjid itu. Guci itu kini bisa kita lihat pada puncak atap Masjid Taqwa Tompong.
Pendirian Masjid Taqwa Tompong inilah yang beberapa puluh tahun kemudian, juga menjadi cikal bakal dari berdirinya Yayasan Nahdlatut Thawalib oleh H. Makkatutu, yang merupakan cucu dari Guru Bandu. Yayasan inilah dan sekolah-sekolahnya yang menjadi peluruh, bagi dahaga besar masyarakat Tompong saat itu, yang kesulitan mengenyam pendidikan oleh karena faktor biaya.
Maka sungguh, tiada yang salah dari menjadi seorang yang kaya, selama kita masih seperti seorang Guru Bandu, yang tidak hanya menimbun dan menyimpan lalu membanggakan pada orang-orang. Kita bisa belajar dari Guru Bandu, bahwa tidak ada harta yang mutlak milik kita. Kita patut meyakini bahwa semua harta selalu berasal dari-Nya dan akan kembali lagi pada-Nya. Harta hanyalah sebuah media, media kebaikan bagi sesama.

Seorang penulis, podcaster, dan vlogger. Alumnus program CCI Amerika Serikat. Sebagai ASN di Bantaeng. Telah menulis buku: Sawah dan Kebun Kurma di Tengah Laut (2019) dan Mengikat Rindu di Ranting yang Rapuh (2019).


Leave a Reply