House of Ninjas: Keluarga adalah Semuanya

Aju Makita sebagai Nagi Tawara dalam House of Ninjas, tidak kalah menawan dari Maria Zhang pemeran Zuki di Avatar: The Last Airbender, yang sedang tayang di Netflix. House of Ninjas menjadi tontonan yang tidak kalah seru setelah saya berhenti untuk tidak melanjutkan Avatar Aang, tepat pada adegan ketika ia ditemukan Zokka dan Katara di padang salju, yang serba putih persis seperti jalan cerita animasinya.

Mungkin saya diliputi kejenuhan akibat sudah mengetahui seperti apa alur cerita dan bagaimana nasib Aang setelahnya. Bertahun-tahun lalu, serial animasinya mudah ditemukan di hampir semua folder laptop, menandai kepopulerannya sehingga cukup gampang untuk menyelesaikannya kurang dari sepekan. Atau bisa jadi kelima indera saya perlu sesuatu yang lebih flat ketimbang dimanjakan efek super realistis teknologi CGI, pendekatan mutakhir dalam dunia sinema, yang mampu memperlihatkan gambar-gambar hidup hiperrealistis. Betul-betul memanjakan mata.

Tapi, yang mencolok dari Avatar Aang adalah adegan duel yang nampak alamiah, presisi, dan betul-betul seperti sedang berkelahi sungguhan, dengan ditambah elemen-elemen kekuatan yang menjadi ciri khas setiap suku. Keren. Ini sesuatu yang tidak saya rasakan sebelumnya di serial One Piece.

House of Ninjas menurut saya adalah sebuah drama keluarga, keluarga shinobi tepatnya. Saya penasaran seperti bagaimanakah jadinya ketika sebuah keluarga menjadi bagian dari generasi shinobi. Menjadi keluarga yang meneruskan warisan dari dunia kuno. Apa yang mereka lakukan di zaman seperti sekarang ini, apakah mereka masih suka mengendus-endus, melempar shuriken, atau bersembunyi dalam bayangan seperti di masa lalu, yang mengemban suatu misi khusus dengan hidup mengamalkan ajaran khas secara rahasia. Ataukah mereka akan beradaptasi menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat Jepang yang kian modern, dan menyembuyikan identitas, keyakinan, dan ajaran mereka dari kehidupan banyak orang.

Keluarga merupakan struktur penting yang menjadi wahana tempat setiap generasi menyimpan nilai, tradisi, dan warisan.

Terkait dengan ini, bukan saja shinobi, setiap keluarga memiliki tugas yang sama untuk mempertahankan apa yang sudah dihasilkan dari generasi sebelumnya. Siasatnya adalah proses sosialisasi, yang terjadi di sepanjang usia itu sendiri, untuk meneruskan tradisi, kepercayaan, dan praktik baik sampai tujuh atau delapan, atau seratus generasi.

Dengan cara seperti itu, keluarga tidak akan bertindak seperti mesin fotokopi belaka untuk mempertahankan apa yang sudah ada, melainkan ikut serta memodifikasi nilai-nilai sosial sesuai dengan konteks historisnya. Kiwari, keluarga menjadi unsur penting masyarakat di dalam menghadapi era perubahan (disrupsi).

Di masa lalu, keluarga diartikan sebagai satu unit raksasa melalui sistem kekerabatan yang mendiami satu rumah, atau satu wilayah tertentu. Mereka hidup dengan cara gotong royong, bekerja dengan mempertahankan apa yang telah menjadi pekerjaan utama nenek moyang mereka. Dengan cara seperti itu adat istiadat merupakan kelanjutan dari setiap generasi keluarga yang nyaris tidak berubah. Mereka hidup dengan cara bagaimana sebuah pohon berkembang. Tapi, saat ini “kesatuan keluarga” telah berpencar-pencar karena pekerjaan, kawin mawin, tempat tingal, dan juga pendidikan.

Satu film menarik yang juga telah saya habiskan baru-baru ini adalah anime Ushio dan Tora, cerita yang menggabungkan legenda masyarakat Jepang tentang rubah berekor sembilan dengan kehidupan seorang anak remaja yang merupakan anak dari orangtua bikhu.

Jadi ceritanya—ini spoiler—dimulai dari Ushio yang tidak sengaja menemukan kamar bawah tanah tempat Tora, iblis berbahaya, disegel melalui sebatang tongkat sakti selama 500 tahun. Ternyata keluarga Ushio bagian dari sebuah sekte kepercayaan kuno yang bertugas melatih seorang yang kelak akan menggunakan tongkat iblis untuk mengalahkan Hakumen no mono, yaitu iblis raksasa berekor sembilan, yang disegel di dasar laut yang menopang kaki-kaki gunung kepulauan Jepang. Kelak jika ia bangun dari persembunyiaannya, bakal mengguncang fondasi negara Jepang sehingga menyebabkan kekacauan dan kehancuran di mana-mana.

Saya menontonnya dengan cara mencicil mencari waktu disela-sela kemalasan membaca buku, atau kegabutan menghadapi perangkat-perangkat perkuliahan yang membuat tugas seorang dosen seolah-olah hanya berupa pekerjaan administratif. Biasanya semua ini saya lakukan di malam hari, waktu yang sebenarnya tidak cocok dikarenakan waktu seperti ini lebih pantas diisi dengan beristirahat.

Tapi, apa boleh buat rasa-rasanya hanya di waktu itu orang seperti saya memiliki “my time”, sesuatu yang diidam-idamkan banyak orang saat ini untuk merayakan privasi dan kebebasan pasca ditelan seabrek pekerjaan.

Oh, iya, saya baru memikirkan ini, kesamaan dari tiga film di atas adalah ceritanya yang memberikan porsi besar kepada anak remaja untuk mengemban suatu misi tertentu, meski sering dimulai dari keengganan untuk menerimanya. Suatu sifat khas anak remaja.

Tapi, seiring mereka melalui berbagai masalah, kesadaran mereka mulai terbuka dan berkembang, lalu kemudian menghasilkan komitmen, idealisme, dan rasa sunguh-sungguh dalam rangka menuntaskan apa yang telah menjadi tanggung jawab mereka sejak awal. Mereka menyadari setiap orang yang telah dilahirkan di dunia ini sudah memiliki tugasnya masing-masing. Tinggal bagaimana setip orang menyadari kekuatannya. Persis seperti perkataan paman Ben kepada Peter Parker dalam film Spider Man: “di balik kekuatan yang besar, ada tanggung jawab yang besar pula.”

Disutradarai oleh Dave Boyle, dan ditulis oleh Masahiro Yamaura, Kota Oura, dan Kanna Kimura.
Episode pertama: 15 Februari 2024 (Jepang)
Jumlah episode: 8
Jaringan: Netflix
Bahasa: Jepang
Genre: DramaCerita seruLaga
Pemeran:
Kento KakuYosuke EguchiTae KimuraKengo KoraAju MakitaNobuko MiyamotoTomorowo TaguchiRiho YoshiokaTokio EmotoKyusaku ShimadaPierre TakiMariko TsutsuiTenta BankaTakayuki Yamada

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *