Upacara Akkawaru dilaksanakan tiga bulan sebelum upacara puncak pesta adat masyarakat Gantarangkeke di Kabupaten Bantaeng. Pada dasarnya, upacara Akkawaru serupa upacara penyucian. Dilaksanakan untuk memurnikan kampung mereka, guna melindunginya dari malapetaka, penyakit, dan roh jahat. Akkawaru, sebentuk upacara yang dilakukan untuk tolak bala, meminta perlindungan kepada Tuhan, dari segala malapetaka yang kemungkinan menimpa wilayah mereka.
Awal mula diadakannya upacara Akkawaru di Gantarangkeke, merujuk ke cerita tentang seorang Karaeng di Gantarangkeke, berpesan kepada rakyatnya, bahwa 3 bulan sebelum upacara adat Pa’jukukang, diadakan arak-arakan keliling kampung dan tanyakan kepada masyarakat dengan ungkapan, “Nia ngaseng jako lalang?” (apakah kalian semua ada di dalam?).
Proses arak-arakan keliling kampung ini, dimaksudkan untuk mengetahui keadaan masyarakat. Sebab, ada sebagian makhluk-makhluk halus, kerap membawa keburukan kepada masyarakat. Oleh karena itu, Akkawaru kemudian menjadi upacara yang bertujuan sebagai tolak bala.
Dahulu, bagian terpenting dari upacara Akkawaru, adanya pawai kerajaan yang mengelilingi ibukota kerajaan. Pinati berhenti pada setiap sudut pemukiman, meletakkan persembahan bagi Karaeng Loe. Lalu, raja memohon kepada leluhurnya yang telah menjadi dewa, agar melindungi kerajaan dari malapetaka.
Kini, acara tersebut berupa arak-arakan, dipimpin oleh kepala dusun, selaku kepala pemerintahan yang menggantikan raja, meminta perlindungan bagi pemukimannya. Dahulu, sebagai bagian dari upacara, raja sendiri yang mensucikan diri, melalui upacara mandi. Saat ini, penduduk memerciki dirinya dengan air suci, yang telah dipersiapkan oleh pinati di depan Balla Lompoa. Tujuannya, melindungi diri dan lingkungan dari penyakit dan gangguan roh jahat.
Upacara Akkawaru dimulai pada malam hari. Para pemangku adat dan pinati telah menempati baruga, sebagai tempat awal dimulainya upacara. Masyarakat menyaksikan jalannya upacara di pinggir baruga. Ganrang (gendang) mulai ditabuh oleh Anrong Guru, sebentuk penanda dimulainya hajatan. Dupa dan kanjoli (lentera yang dibuat dari ampas kemiri) dinyalakan. Mantra-mantra dibacakan sebagai permohonan kepada Tuhan untuk dijauhkan dari segala musibah.
Setelah mantra dibacakan, dupa tersebut dibawa oleh pinati, berpakaian berwarana merah dan puanna, berpakaian warna putih. Selanjutnya, mengelilingi semua perlengkapan sesaji sebanyak 7 kali, berlawanan dengan arah jarum jam.
Persembahan yang disajikan pada rangkaian ini berupa sesajian, buah-buahan, dedaunan, dan beras. Persembahan disimpan oleh puang di setiap babang (pintu) benteng dan juga setiap tinggalan-tinggalan megalitik yang ada.
Selain itu, dalam rangkaian kegiatan ini dipentaskan pula tari-tarian (tari Pakarena Paolle), diiringi oleh ganrang. Doa-doa yang dibacakan telah terkolaborasi dengan menyebut nama Allah dan Nabi Muhamamd saw, melalui bahasa lokal dan ada juga yang berbahasa Arab. Selama proses pembacaan doa, ganrang tidak berhenti dimainkan oleh Anrong Guru, sebagai pengiring proses pembacaan doa.
Usai prosesi ritual di barugayya (baruga), dilanjutkan dengan prosesi mengelilingi kampung dan meletakkan sangarrang di masing-masing babang. Sangarrang yang berjumlah empat, dibawa oleh para pemuda dengan cara digotong, kemudian diikuti oleh seluruh peserta upacara.
Dua orang pemuda membentangkan ulambi (tali yang terbuat bombong turuk atau daun enau yang masih muda). Masyarakat mulai mengelilingi kampung. Ulambi dibentangkan dimulai dari barugayya dan sepanjang perjalanan menuju Babang Bone sambil berteriak, “Nia ngaseng jako lalang?” (apakah kalian semua ada di dalam?), lalu masyarakat yang berada ddalam wilayah bentangan ulambi menjawab, “Nia ngaseng jeki katambang tanga kurang” (kami semua ada di dalam, tiada bertambah atau tak berkurang sedikit pun).
Sahut-sahutan antara peserta upacara, yang mengelilingi kampung dengan amsyarakat yang berada di dalam rumah, dilakukan sepanjang jalan sembari membentangkan ulambi. Tiba di BabangBone, para pemuda yang membawa sangarrang, kemudian mengantungkannya di babang tersebut.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Babang Luwu, melakukan sahut-sahutan seperti yang dilakukan saat perjalanan menuju Babang Bone. Sesudah dari Babang Luwu, menuju Babang Gowa. Semua proses keliling tersebut, berakhir di Babang Bantaeng. Pemberian sangarrang kepada masing-masing babang, dipercaya sebagai ungkapan terima kasih, kepada semua roh yang mendiami tiap babang.
Setelah peletakan sangarrang berakhir di Babang Bantaeng, peserta kembali ke barugayya. Proses berikutnya, adalah a’ngaru, semacam ikrar sumpah setia, sering disampaikan oleh orang-orang di masa kerajaan dahulu. A ’ngaru yang dilakukan terdiri dua jenis, yaitu a’ngaru pepe’ dan a’ngaru badi’. A’ngaru pepe’ dilakukan oleh binakkasa, dengan cara obor yang dipegang diputar-putarkan mengelilingi tubuhnya.
Pada saat ritual ini binakkasa membaca mantra, “Anrai-rai Karaengku, anrai toi, kala kalau Karaengku, kalau toi, angringa-ringa Karaengku, angngaringa-ringa toi, angnungga-nungga Karaengku, annungga toi.” (Jika raja ke barat, maka rakyat pun ke barat, jika raja ke timur, maka rakyat pun ke timur, jika raja ke utara, maka rakyat pun ke utara, jika raja ke selatan, amka rakyat pun ke selatan).
Disampaikan pula beberapa pesan moral, “Tabe sipakatauki, sipakabaji, sipainga, rabba-rabba sipabaungki,tallang-tallang sipaonangki, manyu-manyu siparampeki.” (Permisi, mari kita saling menghargai, saling memperbaiki, saling mengingatkan, jika terjatuh saling mengangkat, jika hanyut saling mendorong ke tepian). Kalimat tersebut terus menerus diulang sembari mengayunkan api.
A’ngaru badi’ dilakukan oleh puanna dengan mengayun-ayunkan badik di atas melewati kepala. Kala badik diayun-ayunkan, puanna membaca mantra, “Kukapean sumang’na tu Lembang Gantarangkeke, battu raya battu ilau, battu ngaseng moko mange, punna tattiling biseannu, risarringko mangngang, punna tinnompangi ro bokonako teai laloko salai karaengnu.” (Kupompa semangatmu wahai orang Lembang Gantarangkeke, dari utara dan dari selatan, datang semualah kalian kemari, walau miring perahumu dan kamu merasa lelah, walau terbalik perahumu, janganlah kamu tinggalkan rajamu).
Setelah acara a’ngaru, acara dilanjutkan dengan tarian Pakarena Paolle. Dimainkan hingga acara akkawaru berakhir. Tari Pakarena Paolle dilakukan oleh 12 orang perempuan muda, diiringi bunyi musik dari gendang, gong, ana’ baccing, dan suling.
Tari Pakarena Paolle merupakan representasi dari kepercayaan dan kebudayaan masyarakat adat Gantarangkeke. Setiap simbol, tanda, dan gerakan dari tari tersebut, memiliki makna yang sarat dengan pesan-pesan kearifan lokal. Berasal dari pandangan hidup masyarakat Gantarangkeke, diwariskan dari zaman nenek moyang.
Esok paginya diadakan acara makan bersama, makanan yang dipersiapkan merupakan sebagian makanan yang telah didoakan, saat pelaksanaaan upacara adat Akkawaru. Masyarakat percaya, makanan yang telah didoakan tersebut, akan dapat memberikan berkah. Dilakukan pula rapat kecil oleh para pemangku adat, guna membicarakan pelaksanaan pesta adat Pa’jukukang, sekitar 3 bulan ke depan.
Setelah kedua rangkaian terlaksana, maka kegiatan selanjutnya merupakan inti dari pesta adat tahunan. Pesta tahunan yang dilakukan di bulan Sya’ban ini, terbagi atas dua rangkaian upacara. Pertama, dilaksanakan kalau ri Pa’jukukang, yaitu upacara dilakukan oleh masyarakat dahulu, berupa aktivitas memancing ikan di salah satu sungai wilayah Pajukukang, selama tiga hari. Kedua, masyarakat pindah lokasi, melanjutkan memancing ikan di Korong Batu, selama sehari.
Selama berkumpul empat hari di dua tempat tersebut, selain memancing ikan juga ada aktivitas ritus berbasis kepercayaan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kegiatan memancing saat ini, tidak ada lagi. Sebab, perubahan geografis sungai dan otoritas kepemilikan lahan telah berubah.
Padahal, menurut kepercayaan masyarakat, sungai yang ada di kedua daerah tersebut, merupakan milik Raja Gantarangkeke. Di masa lalu, merupakan tempat raja dan kepala daerahnya melakukan pesta makan dari hasil tangkapan ikan di sungai tersebut.
Kredit gambar: https://id.pinterest.com/pin/319403798587606820/

Doktor di bidang studi agama. Peneliti pada Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN. Memiliki spesifikasi pada kajian agama dan masyarakat di Kawasan Timur Indonesia.


Leave a Reply