Author: Sitti Nurliani

  • Apa yang Sebenarnya Membunuh Seorang Anak?

    Apa yang Sebenarnya Membunuh Seorang Anak?

    Pagi ini hujan masih mengguyur, setelah semalaman suntuk tidak juga berhenti. Cuaca terasa begitu dingin. Secangkir teh hangat menemani saya membaca rentetan berita di layar ponsel. Saya lalu membaca berita itu perlahan. Tidak sekaligus. Ada bagian-bagian yang membuat saya berjeda. Seorang anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur ditemukan meninggal dengan cara menggantung diri. Kalimat…

  • Filsafat sebagai Etos Hidup di Zaman AI

    Filsafat sebagai Etos Hidup di Zaman AI

    Saya menulis esai ini dengan perasaan yang sulit saya gambarkan. Ada semacam getaran halus di dalam diri saya, seperti campuran antara kekaguman dan kegelisahan yang tidak mudah dijernihkan. Tahun ini, tepatnya Kamis 20 November kemarin, ketika dunia merayakan Hari Filsafat Sedunia 2025, saya ingin turut merayakan dengan cara yang paling dekat dengan diri saya yaitu…

  • Fatimah Az-Zahra dan Jejak Perempuan dalam Sejarah Pengetahuan

    Fatimah Az-Zahra dan Jejak Perempuan dalam Sejarah Pengetahuan

    Ada satu pertanyaan yang sering kali muncul di benak saya ketika berbicara tentang sejarah Islam awal. Mengapa kita mengenal Fatimah az-Zahra lebih sebagai putri Nabi, istri Ali, dan ibu dari Hasan dan Husain tetapi tidak sebagai seorang tokoh intelektual? Pertanyaan ini biasanya membuat orang mengernyit. Seolah-olah ada sesuatu yang tidak lazim, bahwa bukankah perempuan yang…

  • Makan Bersama, Luka Bersama: Kritik atas Program Makan Bergizi Gratis

    Makan Bersama, Luka Bersama: Kritik atas Program Makan Bergizi Gratis

    Pagi di sebuah sekolah dasar negeri di pinggiran kota, anak-anak berlarian ke kelas dengan seragam lusuh yang masih berbau deterjen murah. Di halaman sekolah seorang guru berdiri sambil mengawasi meja panjang yang penuh kotak makanan. Program yang disebut Makan Bergizi Gratis, disingkat MBG sedianya menjadi harapan. Seharusnya, di sanalah anak-anak menemukan energi untuk belajar, protein…

  • Pajak, Keadilan, dan Wajah Republik: Sebuah Renungan Filosofis

    Pajak, Keadilan, dan Wajah Republik: Sebuah Renungan Filosofis

    Pajak di Indonesia selalu hadir di antara kita seperti udara yang tak kasat mata tetapi menekan dari segala sisi. Ia masuk dalam setiap transaksi, mengintip di setiap slip gaji, bahkan hadir dalam segelas kopi yang kita seruput di warung pinggir jalan. Tetapi anehnya, banyak dari kita merasa bahwa pajak adalah sesuatu yang jauh, seolah-olah ia…

  • Akademia: Antara Gedung Indah dan Kelesuan Intelektual

    Akademia: Antara Gedung Indah dan Kelesuan Intelektual

    Tulisan ini lahir dari kegelisahan saya ketika membaca catatan seorang cendekia, yang sekaligus dosen saya, Prof. M. Qasim Mathar. Beliau seorang akademisi yang tidak hanya berpikir tetapi lebih untuk merasakan denyut kampus sebagai ruang hidup intelektual. Dalam tulisannya yang berjudul “Kegersangan Akademik” (Jendela Langit, 12 Juli 2025), Prof. Qasim berbagi cerita dari seorang sahabatnya, mahasiswa…

  • Antara Makna dan Hampa: Tragedi Bunuh Diri Akademisi

    Antara Makna dan Hampa: Tragedi Bunuh Diri Akademisi

    Pagi yang benar-benar sunyi, ketika kabar tentang kematian tak lagi datang dari kecelakaan lalu lintas, antrean rumah sakit atau bencana alam, tetapi dari ruang akademik. Sebuah tempat yang semestinya menjadi lumbung ilmu dan kehidupan. Beberapa waktu lalu, tepatnya Jumat, 11 Juli 2025, seorang dosen di Universitas Negeri Makassar mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengejutkan. Ia…

  • Politik Ketakutan: Perang, Nuklir, dan Ketidakadilan Dunia

    Politik Ketakutan: Perang, Nuklir, dan Ketidakadilan Dunia

    Pagi ini, Selasa 24 Juni 2025, saya memandangi beranda media sosial yang semakin hari dipenuhi berita perang. Di antara kabar konflik itu, satu judul yang mencuri perhatian saya, yaitu: “Iran kembali memperkaya uranium hingga mendekati kadar senjata.” Berita itu melintas begitu saja, lalu tenggelam di antara unggahan tentang cuaca, harga sembako, dan berita politik. Sepertinya…

  • Di Ambang Luka Kemanusiaan: Palestina dalam Narasi Ketidakadilan

    Di Ambang Luka Kemanusiaan: Palestina dalam Narasi Ketidakadilan

    Saya sering bertanya pada diri sendiri. Seberapa jauh perasaan harus diseret agar seseorang bisa menjadi manusia? Seberapa panjang jalan menuju kemanusiaan yang harus kita tapaki dalam luka yang dibentangkan sejarah, saban waktu, tanpa jeda? Nama Palestina hadir bukan sekadar sebagai nama tempat, tetapi sebagai luka purba yang belum juga sembuh, bahkan ketika waktu mencoba menyembunyikannya…

  • Filsafat Tak Tinggal di Menara Gading, Ia adalah Napas Sehari-hari

    Filsafat Tak Tinggal di Menara Gading, Ia adalah Napas Sehari-hari

    Hemat saya, filsafat sejak awal kelahirannya, bukanlah semata-mata tentang konsep-konsep abstrak yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang hidup di menara gading. Filsafat lahir dari kekaguman, dari rasa heran yang sangat manusiawi, dari keinginan untuk memahami hidup yang begitu dinamis, kompleks, dan tak jarang melelahkan. Saya percaya bahwa filsafat, sebagaimana yang diimpikan oleh para filsuf…