Pekan ini, ada dua perhelatan yang ingin saya hadiri dan kebetulan berlokasi di Jakarta. Reken-reken sebentuk healing, setelah hampir enam bulan lamanya beradaptasi dengan lingkungan baru. Pertama, mewakili Komunitas Rumah Koran, Kanrepia, Kabupaten Gowa pada ajang Indonesia Baik Award 2025. Kedua, berkunjung pada kegiatan Balai Bahasa yang dihadiri TBM Rumah Nalar, Kabupaten Bulukumba.
Tenang rasanya bisa berkumpul dan bersua para relawan dan pegiat literasi dari berbagai komunitas di Indonesia. Pertemuan seperti ini, sejatinya cara merawat ingatan dan menjaga tekad api. Sebab jalan kerelawanan adalah jalan sunyi, yang paling sering menghasilkan bunyi, tapi tak semua orang berani.
Ajang Indonesia Baik Award, diinisiasi oleh KBR Media pada Kamis, 27 November 2025. Kegiatan ini dikemas melalui Table Talk dan penerimaan penghargaan, sekaligus temu antar komunitas dari berbagai daerah di Indonesia. Ada tiga komunitas terpilih pada ajang ini, yaitu Sekolah Mimpi dari Maluku, Rumah Koran dari Gowa, dan Climate Rangers Jakarta. Selain itu, Komunitas Inspiration House dari Cirebon dinobatkan sebagai special mention. Komunitas-komunitas ini dipilih dewan juri, karena dianggap turut memberikan dampak dalam upaya merawat Indonesia baik.
Namun, percakapan pada Table Talk yang paling menyedot perhatian saya. Ada empat narasumber yang menghayat pada ajang ini, Bivitri Susanti (Pakar Hukum Tata Negara), Usman Hamid (Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia), Ahmad Arif (Jurnalis Lapor Iklim), dan Eky Priyagung (Komika). Diskusi ini mengusung tema, Merawat Indonesia Baik. Benarkah?
Kita barangkali memiliki jawaban yang berbeda, tergantung perspektif masing-masing. Teropong apa yang dipakai melihat. Pendekatan apa yang digunakan mengolah informasi. Tetapi diskusi dimulai dengan gumpalan emosi yang diluapkan para narasumber. Komika yang harusnya melucu, jadinya bicara serius. Karena para politikus, jadi komikus yang kian ambisius.
Semua marah. Semua kecewa dan sedih. Emosi-emosi inilah yang dilemparkan dan berujung pada satu frasa, “Indonesia Tidak Baik-Baik Saja”. Kita semua tahu dinamika sosial-politik pada pertengahan tahun 2025, yang berujung pada pembakaran gedung-gedung DPRD di beberapa wilayah.
Jagad media merekam dengan jelas, tragedi kematian beberapa demonstran. Tetapi tak banyak yang tahu, termasuk saya, tak sedikit demonstran yang menjadi tahan politik. Tak ada yang peduli pada massa aksi yang hilang. Dua di antaranya ditemukan, hanya tinggal tulang belulang.
Seruan “17+8 Tuntutan Rakyat” hanya jadi manifesto mati yang dibiarkan berdebu di meja kerja. Tak ada kepastian, apalagi keadilan. Lagi-lagi framing yang muncul di permukaan, yang salah adalah rakyat. Sebab subtansi munculnya aksi dilemahkan, yang ditonjolkan adalah anarkisme, gerakan makar, dan disinyalir ditunggangi Akatsuki.
Isu-isu inilah yang diangkat Usman Hamid, satu dari beberapa kecil orang yang masih bersuara, agar segera terbentuk Tim Gabungan Pencari Fakta bagi tahanan politik pasca Agustus Gelap, dan menuntut kinerja transparan Komisi Reformasi Polri.
Usman Hamid pada dasarnya terlihat pesimis dan putus asa pada setiap argumennya. Katanya rakyat Indonesia dulu punya mimpi yang sama, tentang keadilan, kesejahteraan, dan kemerdekaan bersama. Kini elite juga punya mimpi yang sama, tapi tentang sawit, tambang, memperkaya diri sendiri, dan masih banyak mimpi-mimpi lain yang muaranya adalah kesejahteraan diri sendiri.
Waima demikian, nyala harapa itu masih ada. Usman berharap sederhana, kita semua berkumpul dan bersuara. “Kemarahan harus dipertemukan dan dirumuskan menjadi tindakan yang membawa harapan. Sebab kejahatan yang terorganisir itu, mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir,” tukasnya sembari menukil petitih Ali bin Abi Thalib.
Setali tiga uang, Ahmad Arif, Jurnalis Lapor Iklim, juga memuntahkan sedih dan kecewa yang mendalam. Tetapi ia lebih menyorot bencana alam yang terjadi di Sumatera. Hingga hari ini, media melaporkan 179 orang meninggal, 79 orang masih berstatus hilang. Jumlah ini masih bertambah. Belum lagi kerugian materil yang tak terhitung.
Kita sudah tidak bisa lagi pura-pura terjebak dalam fatalisme. Kesalahan berpikir yang kata Jalaluddin Rahmat dalam Rekayasa Sosial, menganggap bahwa suatu peristiwa terjadi karena takdir Tuhan. Banjir bandang di Sumatera, terjadi karena Tuhan menghendaki. Bukan karena pembukaan lahan sawit. Bukan karena deforestasi atau tambang-tambang.
Kang Jalal mengingatkan bahwa cara berpikir demikian, menghambat perubahan sosial, karena kita tidak berusaha mencari solusi. Tentunya, ini bisa menjadi alat melanggengkan status quo para elit. Menguatkan akar ketidakadilan struktural. Lalu masyarakatlah yang menjadi tumbal.
Kita muak dengan pernyataan-pernyataan yang mendadak saleh itu, “ini takdir Tuhan”. Lucunya.. kadangkala keluar dari mulut pajabat-pejabat, yang membuat keputusan politik dan kebijakan yang lebih memihak pemodal daripada rakyat. Lalu seenak jidad mengkambing hitamkan Tuhan.
Untungnya, Maha Benar Tuhan dengan segala firman-Nya. Tuhan telah mengantisipasi kepicikan manusia lewat QS Ar-Rum ayat 41. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan ulah tangan manusia.” Siapa? Mafia-mafia yang kebelet beli skin care impor buat istrinya. Pejabat-pejabat yang menjual hutan kita. Pengusaha-pengusaha yang membakar lahan-lahan kita untuk kebun sawit.
Tidakkah hati kita menangis mendengar lolongan minta tolong itu? “Pak Bupati, tolong kami!” Tidakkah kita iba melihat rumah-rumah hanyut disapu banjir kayu gelondongan? Dengar dengan jernih, pekik tangis anak kehilangan ibu dan bapaknya. Lihatlah dengan saksama, tubuh-tubuh kaku berlumuran lumpur di sana.
“Kita harus bersuara!” kata Arif. “Kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Pers tidak lagi bisa menjadi pilar keempat demokrasi, karena ekosistem media sudah goyah,” imbuhnya. Pada sesi lain, Ahmad Arif juga menyayangkan, sekaligus memberi kritik pada delegasi-delegasi kita di forum-forum nasional dan internasional yang menyoal iklim.
Katanya, mereka amat kurang menyuarakan kondisi nyata yang dialami masyarakat. Tentang polusi emisi yang mengkhawatirkan. Masyarakat adat yang terpinggirkan. Harimau-harimau yang kehilangan rumah. Mereka justru banyak bicara tentang investasi yang menjanjikan.
Inilah duka nestapa bangsa kita. Bangsa yang kata Bivitri Susanti, telah kehilangan subtansi demokrasinya. Demokrasi cangkang kerang. Wujudnya indah, tapi tak berisi. Demokrasi dipoles sedemikian rupa, alih-alih masih ada ruang bersuara, nyatanya kita dibungkam tanpa rasa.
Rakyat kita terlalu baik untuk terus dikibuli. Pada titik ini, kita harus tetap percaya seberapa pun cepatnya kebohongan itu, kebenaran akan mengejarnya juga, kata Tan Malaka. Kita harus tetap berkumpul, bersuara, dan bergerak. Membangun kolaborasi lintas profesi dan generasi. Bivitri Susanti menekankan, ini tak boleh hanya sampai di media sosial. Tapi harus ada temu yang berkelanjutan. Karena gerakan sosial itu tak pernah instan.
Kemudian, diskusi malam itu ditutup Usman Hamid dengan membaca surat dari Azril untuk ibunya. Seorang mahasiswa yang menjadi tahanan pasca aksi Agustus, dan sedang berjuang melawan sakit akibat kekerasan yang diterimanya. Itu bukan sekadar surat. Tapi bunyi keadilan yang akan terus menggema. Entah hari ini, atau esok hari, ia akan menemukan bentuknya.
Akhirnya, saya pulang dengan dadak sesak, sedang malam melanjutkan tugasnya kata Pram, kosong dengan segala perasaan. Tetapi langit-langit Jakarta merekah bak bunga krisan putih di sepanjang khatulistiwa. Indah, tapi sendunya menyayat. Sebab di lain sisi khatulistiwa, ada keadilan yang dibungkam. Ada duka nestapa di Swarnadwipa (Sumatera). Tanah-tanah memuntahkan nanah. Hutan-hutan merobek luka-lukanya. Air mata Ibu Pertiwi membanjiri segala yang dilewatinya. Puncaknya adalah lolongan kesakitan dan kehilangan. Lalu doa-doa pasrah dan sepenggal puisi Taufik Ismail:
Ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
tapi kini kita mulai merasakannya
Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil tak lagi berkicau pagi hari
Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan
Kita saksikan zat asam didesak karbondioksida itu menggilas paru-paru
Kita saksikan
Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir air mata
Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Biskah kita membaca tanda-tanda?
Jakarta, 29 November 2025
Sumber gambar: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/YU

Sesungguhnya bernama Aedil Akmal. Lelaki kelahiran Bantaeng. Seorang
Dosen Pendidikan Teknik Elektronika, Universitas Negeri Jakarta dan pegiat literasi Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan dan Rumah Baca Panrita Nurung, sekaligus tim redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply