Judul tulisan di atas terinspirasi dari pertanyaan salah seorang peserta yang beragama Katolik dalam kegiatan Short Course Moderasi Beragama yang digelar Fatayat NU Sidrap bersama Balai Litbang Agama Makassar pada 14–15 November 2025 lalu.
Pertanyaan itu bukan sekadar mencari jawaban teologis, melainkan jeritan nurani dari luka yang telah lama terpendam. Pasalnya, sejak kecil, sang penanya mengaku kerap dibully di sekolah hanya karena ia beragama Katolik.
Setelah dewasa, identitasnya sebagai seorang Katolik tetap melekat. Namun diskriminasi tidak berhenti. Ia kesulitan mendirikan rumah ibadah karena penolakan kelompok yang mengatasnamakan mayoritas. “Jangankan beribadah dengan tenang, untuk mendirikan rumah ibadah saja susahnya minta ampun,” katanya lirih.
Di tengah kelelahan memperjuangkan haknya sebagai warga negara, ia pun bertanya: “Apa yang salah ketika saya beragama Katolik?” Pertanyaan ini bukan sekadar retoris. Ia adalah jeritan nurani yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang memiliki rasa empati.
Sementara itu, di forum yang sama, Anto, peserta lain, membagikan kisah yang berbeda namun tak kalah menyentuh. Ia pernah bekerja di sebuah perusahaan tambang di Kalimantan. Bosnya seorang Kristen, sementara Anto dan rekan-rekannya beragama Islam.
Di lokasi kerja, sang bos membangun masjid agar para pekerja yang beragama Islam bisa beribadah dengan tenang. Bahkan setiap Jumat, mereka diberi waktu dua jam sebelum azan untuk bersiap menuju masjid.
Tentu saja, sikap semacam ini membuat Anto penasaran, sebab prinsip pengusaha waktu adalah uang, namun itu tidak menjadi prioritas bagi sang Bos. Baginya pemenuhan hak spiritual karyawan jauh lebih utama ketimbang uang.
Kebaikan itu membekas dalam hati Anto. Imajinasi Anto pun bekerja memahami ruang-ruang perbedaan, tak terkecuali perbedaan agama. Ia mengaku belajar empati keberagaman dari orang yang berbeda keyakinan.
Karena itu, sepulang dari Kalimantan, Anto bertekad melakukan hal serupa: membuka ruang bagi umat Kristen yang kesulitan merayakan Natal karena tak memiliki tempat ibadah. Tentu saja, pilihan ini tidak mudah. Anto kerap dicap sebagai kelompok liberal, kafir, bahkan murtad.
Menanggapi hal tersebut, Anto memilih diam, tidak reaktif dan sesekali membalas tuduhan tersebut dengan senyum. Baginya, pilihan untuk membuka ruang terhadap kelompok yang berbeda adalah upaya mengekspresikan rasa empatinya dalam beragama, sebagaimana pengalamannya diperantauan.
Kisah Anto dan peserta Katolik di atas adalah cermin dari wajah Indonesia yang sesungguhnya: beragam, kompleks, dan penuh paradoks. Di satu sisi, kita bangga menyebut diri sebagai bangsa yang religius dan toleran, namun di sisi lain, masih banyak yang alergi terhadap perbedaan.
Bukankah perbedaan adalah bagian dari ketentuan Allah? Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Maidah Ayat 48: “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan satu umat saja. Tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”
Jika kisah pertama menunjukkan luka akibat diskriminasi, kisah kedua justru menampilkan teladan toleransi. Dua kisah yang berbeda di awal tulisan di atas seolah menegaskan bahwasanya perbedaan bisa melahirkan luka, tapi juga bisa melahirkan kebaikan.
Maka, tidak ada yang salah menjadi Katolik, dan juga tidak ada yang salah memberi ruang kepada orang lain untuk beribadah. Justru yang perlu kita tanyakan adalah: kenapa kita begitu mudah mencurigai, mencibir, dan menyesatkan mereka yang berbeda? Bukankah kemuliaan manusia terletak pada kemampuannya untuk memahami, bukan menghakimi?
Pada akhirnya, tulisan ini tidak bertujuan untuk menyeragamkan keyakinan, melainkan seruan untuk merayakan keberagaman. Karena di tengah perbedaan itulah, kita bisa menemukan kemanusiaan dan kedewasaan beragama sebagai bagian dari praktik keberagamaan yang inklusif dan penuh kasih sayang terhadap sesama.

Seorang pekerja sosial di jaringan Gusdurian. Saat ini menjabat sebagai Koordinator Wilayah Gusdurian Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampapua). Selain aktif mengoordinasikan komunitas GUSDURian di wilayah Sulampapua, juga sebagai pengurus Lakpesdam NU Sulsel.


Leave a Reply