“Kutarimami pappala’nu, mingka inakke pa anging na ikau raung kayu, i nakke ere massolong, na ikau sampara’ mammnayu’.” “Kutarimai pappala’nu mingka kualle jako pammajiki, tan kualleko panggodi, kualle jako tambara, tan kualleko racung.”
Inilah awal mula negeri Bantaeng, juga disebut Butta Toa, dalam kisah pencarian pemimpin bagi tujuh wilayah yang masing-masing dipimpin oleh seorang kare’. Dikisahkanlah tentang Tu Manurunga ri Onto, yang dinobatkan menjadi pemimpin para kare’. Di bawah sebuah pohon rindang, beliau bertanya, “Pohon apakah ini?” Dijawablah oleh Kare’ Bisampole, bahwa pohon tersebut bernama pohon “taeng” sambil memandang ke arah enam kare’ lainnya. Serentak keenam kare’ membenarkan jawaban Kare’ Bisampole dengan menyebut kata, “Ba”, yang kemudian menjadi cikal bakal penamaan Bantaeng, berasal dari dua suku kata, yakni “ba” dan “taeng”, demikianlah keterangan Karaeng Imran Massualle.
Bantaeng juga dikenal sebagai tempat pertemuan 4 pemimpin besar yakni, Sombayya ri Goa, Mangkau ri Bone, Pajunga ri Luwu, dan Karaeng Bantaeng sendiri, ditandai dengan adanya pesta adat Gantarangkeke, yang masih ada hingga saat kini. Berbicara tentang Bantaeng dan hubungannya dengan Kerajaan Goa, maka kita akan dibawa pada kisah seorang tokoh legendaris bernama Lakipadada. Beliau dikenal sebagai sosok yang fenomenal yang berasal Tana Toraya, juga dikenal sebagai pencetus kerajaan di Kawasan Sangalla’.
Sosoknya diceritakan di berbagai daerah, baik di Toraya, Buton, Muna, Selayar, Bantaeng, dan Goa. Kisahnya, seiring dengan petualangan beliau dalam mencari Ilmu Tammate, atau ilmu keabadian yang membawanya tiba di tanah Bantaeng. Dalam cerita tutur masyarakat setempat, konon beliau memiliki kedekatan dan hubungan baik dengan Karaeng Bantaeng. Kedekatan itu tampak jelas ketika beliau meminjam tombak pusaka milik Karaeng Bantaeng, untuk berburu babi yang merusak pertanian masyarakat.
Tombak itu disebut Babbala’ Ejayya, merupakan tombak pusaka Karaeng Bantaeng yang dipinjamkan kepadanya, yang menjadi permulaan kisah beliau di tanah Bantaeng.
Dikisahkan bahwa, kelebihan dan kesaktian yang beliau miliki, membuatnya mendapat kepercayaan untuk membawa Babbala’ Ejayya yang merupakan pusaka Karaeng Bantaeng yang sangat dijaga.
Perburuan pun akhirnya dimulai, beliau menyasar hutan, memburu babi-babi yang selama ini meresahkan masyarakat dan merusak pertanian. Dalam perburuannya, beliau menemukan seekor babi besar, kemudian dikejarnya hingga Babbala’ Ejayya melesat dan tertancap di punggung sang babi. Sayangnya, babi yang telah terkena tombak justru terus berlari, hingga ke suatu tempat, masuk ke dalam tanah. Kejadian di depan mata ini membuatnya heran dan khawatir akan mendapatkan murka Karaeng Bantaeng, jika tombak yang dipinjamnya tak kembali, ditelan bumi bersama babi.
Dengan kesaktiannya, serta komitmen beliau dalam menjaga janji dan amanah, akhirnya beliau pun ikut masuk ke dalam tanah, mengejar babi yang membawa Babbala’ Ejayya di punggungnya. Setibanya di bawah tanah, beliau dibuat takjub dengan pemandangan di depannya, ada sebuah istana megah. Lakipadada akhirnya berjalan masuk, menemukan para perempuan sedang menumbuk padi di luar istana, beliau bertanya kepada mereka cara untuk bertemu raja.
Dengan wajah yang murung, para perempuan yang sedang menumbuk padi menyampaikan bahwa saat ini raja mereka sedang sakit. Tak ada satu pun yang dapat menemui raja yang sedang terbaring di istananya. Beliau pun mulai memikirkan solusi agar dapat bertemu raja, sehingga terpikir untuk menyamar menjadi tabib, agar dapat bertemu langsung dengan sang raja.
Para pengawal kerajaan pun tidak curiga dengan penyamaran yang beliau lakukan, hingga akhirnya diizinkan masuk ke dalam kamar raja. Di dalam bilik itu, beliau menemukan sang raja, terbaring di atas ranjangnya dengan tombak yang beliau pinjam dari Karaeng Bantaeng, tertancap di punggung sang raja.
Lakipadada pun berpikir keras cara mendapatkan kembali tombak pusaka yang tertancap di punggung sang raja. Beliau pun akhirnya meminta para pengawal keluar, agar bisa mengobati sang raja, serta meminta para pengawal untuk tidak merasa kaget jika sang raja kesakitan, kare’na sesungguhnya itu adalah akibat dari menarik tombak dari tubuh sang raja yang mungkin dapat membunuhnya. Para pengawal raja pun akhirnya menyilakan Lakipadada mengobati sang raja dan segera meninggalkan bilik.
Tanpa keraguan, beliau akhirnya menarik tombak tersebut dari punggung sang raja. Keajaiban terjadi, setelah tombak lepas, seketika itu pula sang raja sembuh dari sakitnya. Kejadian ini membuat sang raja merasa senang dan mengucapkan terima kasih kepada Lakipadada yang telah mengobatinya. Kebahagiaan sang raja yang baru saja sembuh, diutarakannya dengan menghadiahi Lakipadada dengan sebuah tombak yang mirip dengan Ba’bala’ Ejayya, sebagai ucapan terima kasih.
Lakipadada akhirnya kembali ke atas, menuju kediaman Karaeng Bantaeng untuk mengembalikan tombak pusaka Ba’bala’ Ejayya. Konon setelah itu, beliau melanjutkan perjalan hingga ke Kerajaan Goa dengan membawa pusaka pemberian raja babi yang ditemuinya di bawah tanah.
Kisah Lakipadada di Bantaeng adalah sebuah mitos yang melegenda. Namun, cerita ini makin dipercaya dengan adanya batu yang menjadi penanda tempat beliau menuju ke dunia bawah tanah. Batu yang berbentuk lonjong dan berpori seperti batuan koral masih berada di tempatnya, dipercaya sebagai penanda tempat beliau menuju dunia bawah. Lokasinya bersebelahan dengan batu pelantikan para Raja Bantaeng, yang berada di tengah Kota Bantaeng, tepatnya di Kelurahan Pallantikang.
Meski tampak sangat sederhana, batu yang berukuran sekitar 60 cm ini, menjadi salah satu situs yang kerap dikunjungi masyarakat. Tak ada kesan menyeramkan dari batu ini, selain sebuah pohon beringin besar yang berada tepat di sebelahnya, seolah menjadi payung bagi situs ini. Selain itu, tampak juga daun pandan, berbagai bebungaan, seperti kembang kertas yang mulai layu dan mengering berada di sisi batu tersebut, sebagai bentuk penghormatan masyarakat yang datang berziarah.
Batu Lakipadada dan Ba’balak Ejayya masih tersimpan hingga kini, menjadi 2 benda peninggalan yang menguatkan kisah Lakipadada di tanah Bantaeng. Meski hanya sebuah cerita tutur, tapi kepercayaan masyarakat Bantaeng yang terus menjaga warisan situs dan pusaka Kerajaan Bantaeng, seolah menjadi sebuah sejarah pasti yang dibalut dalam kemasan mitos.
Setelah meninggalkan Bantaeng, kisah Lakipadada kemudian berlanjut di Kerajaan Goa. Konon beliaulah yang menikahi Tu Manurung Bainea yang merupakan penguasa Kerajaan Goa pada masa itu. Dalam versi yang lain, diceritakan bahwa yang menikahi penguasa Karajaan Goa adalah saudara beliau yang dikenal dengan nama Karaeng Bayo, atau yang juga di kenal sebagai Patta La Bantang. Di sisi lain, Lakipadada juga dikenal dengan berbagai sebutan, seperti Karaeng To Terang-Terang, karena kakinya yang konon dipenuhi tiram.
Ini diawali saat beliau menumpang kaki burung Sang Kuwajeng, lalu dijatuhkan di tepi pantai hingga beliau berjalan menyusuri pantai, sebelum akhirnya tiba di wilayah Bantaeng. Dalam perjalanan inilah, kaki beliau dipenuhi dengan tiram dan digelari Karaeng To Terang- Terang. Dari kisah ini pula, beliau digelari sebagai Tu Tetea ri Je’nek (yang berjalan di atas air), atau Manurunga ri Je’ne’ (Yang turun di Air).
Sumber:
Karaeng Imran Massualle: Sejarah Butta Toa Bantaeng. 2013. KaraengImranMassualle.blogspot.com
Nasruddin, Nasruddin, ed. (2016) Sejarah dan Budaya Lokal: dari Sulawesi sampai Bima. Gunadarma Ilmu, Makassar. ISBN 978-602-1347-45-4
Catatan: Tulisan ini telah dimuat dalam buku, Bantaeng Satu Negeri Seribu Cerita (2025), hal. 244-248.
Kredit gambar: chatgpt.com/s/m_68d482095b248191af683ee4b354be4c

Lahir di Sungguminasa 8 Februari 1992, terlahir dari pasangan Purn. TNI Baso M. Lurang, dan Nurfiani Mustika. Menempuh Pendidikan D3 Teknik Sipil di Politeknik Negeri Ujung pandang dan S1 Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Bekerja sebagai pegiat literasi, pendidikan, dan kebudayaan di Kabupaten Takalar sejak 2019. Pendiri TBM Rumah Baca Mattawang yang menjadi cikal bakal pendirian 3 TBM dan 4 sanggar seni budaya binaan di Takalar.


Leave a Reply