Indra: Nama yang Kini Menjadi Doa

Indra, Bu Indrawati, atau kak Indo. Begitu kami biasa memanggilnya. Bukan sekadar seorang guru. Ia lebih seperti denyut kecil yang memberi irama pada setiap pertemuan, sesuatu yang tidak selalu kentara tetapi terasa bila tak ada.

Saya masih ingat dengan jelas sore 10 Agustus tahun lalu, di lapangan Seruni. Senja turun perlahan, cahaya jingga menyapu halaman, dan Indra duduk di sana bersama komunitas guru belajar Nusantara. Tidak ada pidato, tidak ada panggung, hanya obrolan yang meluncur begitu saja, tawa kecil yang tidak pernah ingin berlebihan, dan gestur tubuhnya yang selalu seakan memberi ruang pada orang lain.

Sederhana sekali, hampir tak ada yang monumental. Tetapi justru karena kesederhanaan itulah saya masih menyimpannya sebagai sebuah gambar yang utuh: warna langit yang berganti, udara sore yang pelan-pelan dingin, dan kehadiran Indra yang membuat percakapan apa pun terasa penting untuk didengarkan.

Dua minggu setelah itu, 25 Agustus, saya melihatnya lagi di kemah komunitas belajar. Kali ini ia tidak hanya duduk, ia bergerak memimpin. Ada outbound, ada permainan, ada instruksi yang ia lontarkan dengan suara penuh kepastian. Ia bukan orator, tetapi seruan-seruannya mampu mengikat kami dalam satu gelombang yang sama: riuh, serentak, dan hangat. Tidak ada yang membantah, tidak ada yang sekadar berpura-pura mengikuti, sebab kami tahu titahnya lahir dari niat yang bersih.

Ia bukan pemimpin yang memerintah dari atas, melainkan dari tengah, dengan tubuh yang ikut berlari, dengan keringat yang sama-sama jatuh ke tanah. Dalam sosok itu kami menemukan sesuatu yang jarang hadir: kepastian yang tidak memaksa, otoritas yang tidak menindas, dan karisma yang tumbuh bukan karena posisi, melainkan karena hati yang tulus menjaga.

Waktu melangkah cepat, dan saya menemuinya lagi di Stasiun Lempuyangan, 17 November 2024. Ia berdiri sehat, bugar, seperti menolak kenangan tentang sakit yang pernah singgah dalam hidupnya. Tangannya sibuk dengan ponsel, menulis sebuah caption pendek di reel Instagram: terus berjalan sesuai jalur, karena jalan hidup tak bisa diukur. Cukup perbanyak bersyukur, segalanya biar Allah yang atur. Kalimat itu tampak sederhana, tapi di dalamnya ada keteduhan yang sulit dijelaskan.

Bukan sekadar nasihat murahan yang berseliweran di media sosial, melainkan sesuatu yang lahir dari kedalaman dirinya, dari tubuh yang pernah remuk oleh rasa sakit, dari jiwa yang belajar berdamai dengan batas. Mungkin karena itu kata-katanya tak terasa menggurui, justru menenangkan. Saya percaya ia menulisnya bukan untuk mencari perhatian, melainkan untuk mengingatkan dirinya sendiri, dan siapa pun yang kebetulan lewat bisa ikut singgah di keteduhan itu.

Ia berjalan riang, seolah perjalanan adalah bagian yang paling ia syukuri dari hidupnya. Dengan gembira, ia mengerek kopernya sendiri, benar-benar menikmati perjalanannya, bukan sekadar menuju sebuah tujuan, tapi menghadirkan rasa syukur di tiap langkah. Saya melihatnya bukan sebagai seorang yang baru sembuh, melainkan sebagai seorang musafir yang memilih bersahabat dengan waktu. Ada optimisme yang tak pernah selesai terpancar dari wajahnya, seperti pelita kecil yang menolak padam.

Penderitaan, bila memang pernah ada, ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia yang hanya ia dan Tuhannya tahu. Kepada dunia, ia menampilkan diri yang ringan: penuh energi, penuh percaya diri, penuh rasa syukur. Dan sungguh, ia berhasil membuat kami percaya bahwa begitulah adanya dirinya, seorang pengembara yang mengajarkan arti sederhana dari hidup: berjalanlah terus, dengan senyum, dengan syukur, dengan keyakinan bahwa segalanya akan diatur oleh Yang Mahakuasa.

25 Agustus 2025. Setahun tepat setelah ia memandu kemah belajar. Saya berada di sebuah pelatihan guru, hampir tiba di penutupan, ketika sebuah kabar pendek masuk: Halo kak. Kak Indra meninggal. Baru saja. Masih di rumah sakit. Saya kaget. Kalimat sederhana itu seperti palu kecil yang menghantam dada. Tak ada hiasan, tak ada penjelasan panjang. Tapi saya tahu artinya: seseorang yang baik benar-benar telah pergi.

Bayangan tentangnya langsung berserakan di kepala saya. Tentang diskusi panjang menjelang cerdas cermat guru, tawanya saat menjadi penyanggah utama kemah belajar, rencana-rencana yang tak pernah surut. Sesaat saya merasa kosong. Lalu saya bertanya dalam hati: apakah hanya saya yang kehilangan?

Ternyata tidak. Satu demi satu kesaksian hadir. Seorang kawan menulis: saya bersaksi, almarhumah orang baik. Ada yang kembali membuka ingatan lama: perjuangan awal mereka di masa honor. “Kami satu gugus. Indra di SD Negeri 9, saya di SD Negeri 7 Letta. Tahun 2005,” begitu kisahnya. Yang lain mengenangnya sebagai pengajar praktik yang sabar dan tekun.

Ada pula yang menekankan kelembutannya: tak pernah meninggikan suara, selalu menghormati senior, menghargai yunior. Saya jadi teringat kembali, betapa di setiap ruang bersama, ia selalu memilih solusi ketimbang keluhan, memilih jalan adaptif ketimbang ratapan.

Maka semakin jelaslah bagi saya, bahwa Indrawati Sampara bukan sekadar guru penggerak, ia adalah guru yang sungguh-sungguh hadir untuk murid, rekan, dan siapapun yang berjalan bersamanya.

Kehadirannya terasa dalam hal-hal kecil: cara ia mendengarkan tanpa memotong, cara ia memberi dorongan tanpa menggurui, cara ia menertawakan kesulitan sehingga beban terasa ringan. Ia tidak hanya memberi inspirasi, tetapi juga memberi teladan tentang bagaimana menjadi manusia yang sederhana sekaligus berdaya.

Kini, setelah kepergiannya, saya sadar bahwa kenangan tentangnya tak berhenti di ruang komunitas. Ia tinggal dalam kalimat-kalimat singkat yang pernah ia ucapkan, dalam pilihan sikap yang selalu meneduhkan, dalam langkah-langkah yang ia jejakkan di jalan pendidikan. Indra mungkin telah tiada, tetapi cara ia hidup akan terus berjalan bersama kami. Sebab orang baik, meski pergi, tetap meninggalkan cahaya dan cahaya itu tak pernah benar-benar padam.

Maka izinkan saya, lewat tulisan yang sederhana ini, menundukkan kepala: selamat jalan, Bu Indra, Kak Indo. Saya tahu Anda tidak mencari perayaan, tidak meminta barisan panjang doa yang digemakan keras-keras. Anda hanya ingin kami melanjutkan, tetap bergerak, tetap belajar.

Namun, tetaplah saya ingin menulis ini, seperti seorang murid yang menulis surat pendek pada gurunya: terima kasih atas cahaya kecil yang Anda titipkan. Cahaya itu tidak padam bersama kepergianmu, justru kini ia berpindah, menyala di banyak hati yang pernah disentuhmu. Cahaya itu kini menjelma menjadi dorongan bagi kami untuk meneruskan jejakmu: sederhana, tenang, dan penuh pengabdian.

Sungguh, di tengah kabar duka ini, saya belajar satu hal penting: bahwa hidup yang baik bukanlah hidup yang panjang, melainkan hidup yang memberi bekas. Indo telah menunjukkannya tanpa perlu pidato, tanpa banyak kata. Ia hadir, bekerja, mendampingi, dan membiarkan ketulusan itu berbicara dengan sendirinya.

Saya percaya, tidak ada yang benar-benar pergi ketika jejaknya masih tertinggal di langkah orang lain. Dan saya tahu, langkah-langkah kami ke depan akan selalu diiringi dengan kenangan tentangmu, Bu Indo, kenangan yang bukan hanya membuat kami rindu, tapi juga menguatkan kami untuk tidak berhenti.

Karena itu, kami tidak hanya berduka, kami juga bersyukur. Bersyukur pernah bertemu, pernah berjalan bersama, pernah tertular semangatmu. Semoga Allah menerima seluruh amalmu, melapangkan perjalananmu, dan menempatkanmu di sisi terbaik-Nya.

Bagi kami yang masih tinggal, semoga tidak lupa bahwa kepergianmu adalah pengingat bahwa pada akhirnya kita hanya menitipkan cahaya, bukan nama; meninggalkan kebaikan, bukan gelar. Dan cahaya yang kau tinggalkan itu, Bu Indo, akan terus kami rawat, agar tetap menyala di ruang-ruang belajar, di hati para murid, dan di perjalanan kami sebagai guru yang masih berusaha belajar sepertimu. Guru belajar sampai akhir.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *