Tanggal 22 Juni selalu jadi hari yang istimewa dalam hidup saya. Pada tanggal ini, dua anak saya, Adil dan Moana, lahir dengan selisih lima tahun. Adil lahir pada 22 Juni 2018, tepat dua tahun setelah saya menikah dengan mamaknya.
Lima tahun kemudian, pada 22 Juni 2023, lahirlah Moana, yang kami beri nama lengkap Moana Lestari Wiringlangi. Ulang tahun (Ultah) mereka bukan cuma soal usia yang bertambah, tapi juga jadi pengingat perjalanan kami sebagai keluarga—dari satu titik ke titik berikutnya.
Sebagai cara sederhana untuk merayakan hari ulang tahun mereka, saya ingin membagikan beberapa catatan yang pernah saya tulis. Catatan ini juga saya kirimkan ke mamaknya, sebagai kado ulang tahunnya yang ke-32 pada 17 Mei lalu.
Surat untuk Adil dan Moana
Anakku Adil, putra sulungku, dan Moana, putri kecilku yang manis,
ayahmu berasal dari keluarga sederhana. Keluarga kecil yang hidup bersahaja tapi penuh tawa, seperti masa kecil kalian sekarang. Masa di mana kebahagiaan datang dari hal-hal kecil: dari bermain di halaman, dari suara ayam berkokok pagi hari, dari pelukan hangat orangtua.
Adil, sejak kehadiranmu, saya belajar menjadi seorang ayah. Kini usiamu telah tujuh tahun, dan kau duduk di kelas satu SD Inpres Sarroanging. Dari caramu bertanya, tertawa, marah, dan memeluk, saya banyak belajar tentang cinta yang tak bersyarat.
Dan Moana, adikmu yang mungil, kini sedang belajar mengucap kata. Seperti dirimu dulu, kata pertamamu adalah “mama” dan “tetta” dua kata yang membuat rumah kita begitu hidup. Dari suara kecilmu, kami tahu, dunia ini masih punya harapan.
Di usia kalian yang sedang tumbuh ini, saya membaca sebuah buku berjudul, The Danish Way of Parenting. Buku itu bercerita tentang bagaimana orang Denmark membesarkan anak-anak yang tangguh dan bahagia. Di sampul belakangnya tertulis: Rahasia menjadi orang tua yang bahagia untuk anak yang bahagia. Kelak, kalian bisa membaca buku itu juga. Tapi sebelum itu, izinkan saya menyampaikan kisah yang lebih dekat—kisah kita.
Suatu sore, saya mengajak kalian menjemput saudara nenekmu—ibuku. Ibumu sedang keluar bekerja, mengurus pelanggan di usaha rias pengantinnya. Kita bertiga naik mobil pick-up dari Bateballa ke Salluang. Adil, kamu duduk di sisi kiri dekat pintu, dan Moana duduk di tengah. Saya memintamu menjaga adikmu, tapi belum sampai separuh perjalanan, sekitar Tana Labbu—kau sudah terlelap. Jalan poros yang dikelilingi sawah itu seakan mengayunkanmu ke dalam mimpi.
Sementara itu, Moana tampak menikmati perjalanan. Ia sibuk meraba jok, sesekali mencoba menyentuh tuas persneling. Saya memangkunya sambil menyetir, lalu kau tiba-tiba protes, minta dipangku juga. Di momen kecil itu, saya benar-benar merasakan menjadi seorang ayah, bukan hanya secara biologis, tapi secara utuh: hadir, menjaga, dan mencintai.
Anakku, saat surat ini kutulis, baru empat hari sejak kepergian kakekmu, Hambali. Beliau adalah ayahku—sosok yang dulu memegang tanganku seperti saya kini memegang tangan kalian. Saat saya seusiamu, Adil, kakekmu sering mengajakku ke sawah. Di tepi sawah yang berbatas sungai, kami memancing bersama. Saya masih ingat jelas bagaimana saya menjerit girang sekaligus takut saat kailku mendapat belut untuk pertama kali. Kakekmu hanya tertawa, lalu memelukku.
Kini beliau telah berpulang, menutup lembar hidupnya sebagai seorang ayah. Kini, saya menggantikannya—menjadi ayah untuk dua anak kecil yang sedang tumbuh, belajar, dan menatap dunia dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Kalian mungkin belum mengerti semua ini sekarang. Tapi kelak, saat kalian membaca surat ini, kalian akan tahu: cinta seorang ayah tidak selalu hadir dalam kata-kata besar, tapi dalam hal-hal kecil—dalam jemputan sore, dalam pelukan saat berkendara, dalam ingatan akan pancing dan belut, dan dalam setiap cerita yang kutulis untuk kalian.
***
Moana
Ditulis di malam ulang tahun mamakmu, 17 Mei 2025
Nak,
Sebentar lagi usiamu genap dua tahun—22 Juni 2025. Tapi bahkan sebelum genap dua tahun, kamu sudah banyak mengejutkan kami dengan kepandaian dan kelincahanmu. Kamu mulai bisa mengucapkan banyak kata, bahkan sudah mulai hafal potongan-potongan lagu anak-anak yang sering kamu tonton dari HP-nya Tetta atau mamakmu. Suaramu yang lugu saat bernyanyi sering membuat kami tertawa dan terpana sekaligus.
Sekarang kamu sudah lincah berlari ke sana kemari. Kadang kamu bermain di depan kios sayur mamakmu di pertigaan Pasar Baru Bantaeng, malam-malam. Meskipun kendaraan yang lewat hanya sesekali, saya tetap menjagamu dari dekat. Kadang kamu berlari sambil tertawa bersama kakakmu, Adil. Pemandangan itu selalu jadi bagian paling indah dari hariku.
Kamu juga sudah berhenti menyusu dari ASI mamakmu. Awalnya saya sempat keberatan, merasa itu terlalu cepat. Tapi akhirnya saya mengerti, dan meminta pada mamakmu agar kamu tetap diberi susu formula.
Sekarang kamu sudah pandai meminta sendiri saat ingin dibuatkan susu. Kamu menyebutnya “tete” dan mengulang-ulang kata itu sambil menunjuk dot besar kesayanganmu—yang bisa memuat 240 ml, meski biasanya saya hanya mengisinya sampai 200 ml. Setiap malam sebelum tidur, kamu selalu meminta dibuatkan susu. Itu jadi rutinitas kecil kita yang terasa hangat.
Malam ini, di malam ulang tahun mamakmu yang ke-32, saya pulang lebih awal dari kantor setelah mengantarnya mengecek lokasi rumah pengantin. Saat saya masuk ke kios, kamu langsung berteriak, “Tetta, tetta, tettaaa!” lalu berlari kecil menghampiri saya. Ketika saya hendak keluar lagi, kamu mengejar sampai ke pintu mobil dan berkata, “Ikut, ikut, ikut tetta!” Saya tahu kamu ingin ikut, jadi saya angkat kamu, duduk di kursi depan kiri. Kamu tampak sangat bahagia, meski saya hanya ingin keluar sebentar untuk membeli sebatang SilverQueen—cokelat kesukaan mamakmu.
Moana, malam ini bukan malam biasa. Meski sederhana, saya ingin merayakan ulang tahun mamakmu. Dua tahun lalu, saya pernah memberikan sebatang SilverQueen di hari ulang tahunnya. Dia tersenyum bahagia dan matanya bersinar. Saya tahu itu bukan soal harga hadiah, tapi makna di baliknya. Maka malam ini, saya ingin mengulanginya.
Sebelum saya memberi hadiah itu, saya lebih dulu menidurkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul 21.45. Seperti biasa, saya membuatkanmu susu dan mengelus kepalamu hingga kamu tertidur lelap. Di dalam rumah, mamakmu dan kakakmu Adil sudah tertidur lebih dulu.
Tepat tengah malam, dua sahabat mamakmu—Tante Kasma dan Tante Ros—datang membawa kue ulang tahun. Kami menyalakan lilin, menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”, dan tertawa kecil bersama. Hanya itu, tapi terasa penuh. Saya memberikan mamakmu dua batang SilverQueen malam itu, berharap keluarga kecil kita terus diberkahi kebahagiaan.
Moana, semoga kelak saat kamu membaca ini, kamu tahu bahwa setiap detik bersamamu dan kakakmu adalah anugerah. Momen-momen kecil seperti malam ini adalah kenangan yang ingin Tetta simpan selamanya—dan kini, juga ingin Tetta wariskan padamu.
***
Kios Sayur
Mamakmu memang pandai melihat peluang. Ia pekerja keras, dan saya percaya, tekad kuatnya itu lahir dari kalian berdua—Adil dan Moana.
Pada bulan Maret, tepatnya tanggal 15 tahun 2025, kami memutuskan untuk menyewa sebuah kios kecil.
Ukurannya tak besar, sekitar 3×8 meter, memanjang ke belakang dan menghadap ke timur. Letaknya ada di pertigaan taman kota, tak jauh dari Pasar Baru Bantaeng. Dari depan kios itu, tampak jelas warung bakso legendaris milik Mas Dodo—nama yang cukup dikenal orang-orang kampung. Biasanya, selepas panen jagung, para petani singgah di sana untuk menikmati semangkuk bakso, sebagai hadiah kecil atas jerih payah mereka.
Kios itu kami bagi menjadi dua bagian. Di bagian depan, mamakmu menjual beragam sayuran segar: kol, wortel, buncis, mentimun, bawang—semuanya hasil bumi dari tanah subur Bantaeng, terutama dari dataran tinggi Loka dan Sinoa.
Sejak kami mulai menyewa kios, rutinitas mamakmu pun bertambah padat. Sebelumnya, ia sudah cukup sibuk mengurus rumah pengantinnya dan menerima honor dari kantor Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng, tempat ia mulai bekerja sejak 2018.
Kini, hampir setiap subuh, jika tidak ada jadwal merias pengantin, mamakmu melapak di Pasar Baru atau Pasar Cengke. Lapaknya dibuka di depan deretan ruko yang sebagian besar dimiliki oleh orang Tionghoa. Biasanya, saya mengantar mamakmu ke pasar pada pukul dua atau tiga dini hari. Kami membawa berbagai sayur segar untuk dijual di lapaknya, tepat di depan Toko Bassi Beru atau Toko Langganan—dua tempat yang cukup strategis untuk menarik pelanggan kota yang berbelanja selepas salat Subuh.
Sebenarnya, lapak itu awalnya dikelola oleh nenekmu—ibu dari mamakmu. Tapi mamakmu sering ikut turun tangan, apalagi jika tidak ada job pengantin hari itu. Ia sangat pandai mengatur waktu. Kalaupun pagi-pagi harus merias pengantin, selepas selesai, ia bisa langsung kembali ke pasar dan menjaga kios. Setelah Duhur, biasanya ia pergi ke Terminal Sasayya, sekitar lima kilometer dari Pasar Baru, tempat para pedagang pengumpul membongkar muatan sayur dari petani. Di sanalah mamakmu membeli dagangan untuk dijual di kios dan lapaknya.
Sejak kios ini kami kelola, kami jadi lebih sering menginap di sana. Menjaga dagangan sambil berbagi tugas. Saya senang bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama kalian. Kadang saya membantu mamakmu menata sayuran, kadang mengantar atau menjemputnya. Tapi di sela-sela semua itu, saya juga membuatkan susu untukmu, Moana, atau mengantar kakakmu Adil ke sekolah setiap pagi, jika malam sebelumnya kami menginap di kios.
Di kios kecil itulah, hari-hari berjalan. Dalam kesederhanaan, tapi penuh arti. Kadang saya mencatat aktivitas kita, kadang mengajari Adil membaca atau menulis. Di tengah tumpukan kol dan wortel, di antara lalu lalang orang pasar dan deru motor pagi hari, di situlah saya menyaksikan tumbuhnya keluarga kecil, pelan-pelan, penuh cinta.

Lahir di Bantaeng, 7 Juli 1992, bekerja di Balang Institute sejak 2019. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar Angkatan 2009. Beralamat di Kampung Sarroanging, Desa Mappilawing—Eremerasa—Bantaeng.


Leave a Reply