Makna Garis Lurus

Satu hadist riwayat Imam Ahmad disebutkan, Rasulullah saw. menarik empat garis di tanah, lalu beliau berkata, “Apakah kalian tahu apa maksudnya?” Para sahabat menjawab, Allah dan rasul-Nya lebih tahu.

Kemudian Rasulullah saw. bersabda, perumpuan penghuni surga yang paling mulia adalah Khadijah binti Khuwailid ra., Fatimah binti Muhammad saw., Maryam binti Imran, dan Asiyah bin Muzahim istri Fir’aun.

Sabda Rasulullah saw. di atas, empat perempuan mulia disimbolkan dengan tarikan garis lurus yang berjumlah empat. Menurut penulis, keempat garis tersebut mengisyaratkan makna, keempat perempuan tersebut, merupakan manusia yang berada di jalan lurus dan masing-masing memiliki kelebihan khusus, menjadikannya mulia di sisi Allah.

Khadijah misalnya, beliau istri Rasulullah saw. yang tidak pernah dipoligami oleh Rasulullah saw. Beliau istri yang paling dicintai Rasulullah saw. Nama Khadijah tidak pernah dilupakan oleh Rasulullah saw. Di antara kelebihan Khadijah, sehingga dinobatkan sebagai perempuan mulia di sisi Allah, karena kedermawanannya untuk Islam.

Seluruh kekayaannya dihabiskan untuk pengembangan Islam. Khadijah di awal kehidupannya bersama Rasulullah saw. memiliki 2/3 dari seluruh kekayaan yang ada di Makkah. Namun, di akhir hayatnya, beliau hanya memiliki satu pakaian yang telah ditambal kurang lebih sebanyak 80 sampai 90 tambalan. Dengan perkataan lain, Khadijah di akhir hayat menjadi miskin.

Ketika menjelang ajalnya tiba, Khadijah memanggil dan menyuruh anaknya Fatimah, agar memintakan surban Rasulullah saw. yang biasa beliau gunakan ketika menerima wahyu, untuk kujadikan kain kafanku ketika aku meninggal, kata Khadijah.

Fatimah berkata kepada ibunya, mengapa bukan ibu yang langsung meminta kepada ayahku, Rasulullah saw? Khadijah menjawab aku malu kepada ayahmu, Rasulullah saw. wahai anakku. Namun, ketika Khadijah meninggal, Jibril as. membawa kain kafan dari surga untuk digunakan oleh Khadijah. Keberadaan kain kafan ini telah menjadi bukti kemuliaan seorang Khadijah yang lurus.

Adapun kelurusan dan keistimewaan Maryam as. di sisi Allah adalah beliau perempuan yang sangat cantik, tetapi beliau sangat terpelihara kesuciannya. Salah satu bukti kesuciannya, beliau menjadi ibu dari seorang nabi dan rasul, yakni Nabi Isa as.

Demikian pula dengan Asiah istri Fir’aun. Beliau perempuan suci meskipun ia hidup dengan suami yang pendosa besar. Asiah mampu istiqamah dalam keyakinan tauhid, meskipun ia hidup bersama suami yang kafir dan bahkan menganggap dirinya sebagai Tuhan.

Tidak jauh berbeda dengan ketiga tokoh perempuan di atas, Fatimah az-Zahrah, juga perempuan lurus dan istimewa di sisi Allah dan di sisi Rasulullah saw. Bahkan Rasulullah saw. seringkali menyandarkan Fatimah az-Zahrah kepada dirinya.

Seperti disebutkan dalam beberapa riwayat, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Fatimah adalah bagian dari diri atau jiwa saya, barang siapa yang membuatnya senang, maka ia membuat saya senang. Barang siapa yang membuatnya marah maka ia telah membuatku marah. Fatimah adalah orang yang paling mulia di sisiku.” Demikian di antara sabda Rasulullah tentang Fatimah.

Menurut penulis tarikan, 4 garis lurus yang dibuat Rasulullah saw. untuk menggambarkan keempat perempuan yang berada pada posisi puncak kemuliaan spiritual di sisi Allah.  Uraian di muka, mengisyaratkan makna, untuk mencapai derajat spiritual yang tinggi dan puncak, memiliki banyak jalan keselamatan (subulus salam). Dan, semua jalan tersebut adalah bagian dari jalan ketakwaan, sebagai jalan mulia dan lurus.

Oleh karena itu, untuk dapat mencapai puncak ketinggian di sisi Allah, maka perlu mengenal diri, di jalan mana Allah menempatkan untuk naik menuju ketinggian, selama yang diwajibkan dan difardukan Allah telah ditegakkan dengan ikhlas.

Ada hamba yang ditempatkan Allah pada derajat kemulian dan ketinggian di sisi-Nya, sebagai imam yang adil atau pemegang kekuasaan yang adil. Sebagian lagi mencapai derajat spiritual yang mulia sebagai pedagang yang jujur. Ada lagi sebagai ilmuan atau ulama yang mengamalkan ilmunya. Ada juga yang mencapai derajat kemuliaan yang di sisi Allah sebagai seorang miskin yang bersabar dan bersifat kanaah.

Sebagian hamba lainnya mencapai ketinggian derajat di sisi Allah, lewat ujian kekayaan yang diujikan kepadanya. Yakni dengan sifat tawadu dan kedermawanannya. Ada pula mencapai derajat kemuliaan tersebut, melalui ibadah-ibadah sunnah yang disyariatkan. Dan banyak lagi cara dan jalan menuju kemuliaan di sisi Allah.

Pendek kata, jalan menuju kemuliaan di sisi Allah disebut shiratal mustaqim atau jalan yang lurus, dan itu hanya satu. Namun, jalan tersebut sangat lebar dan sangat luas. Oleh sebab itu tak usah saling memotong jalan, untuk meraih dan sampai di puncak kemuliaan di sisi Allah.

Tak usah merasa lebih hebat dari orang lain yang telah sama-sama berada di jalan lurus. Tak usah membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Sebab, membandingkan diri dengan orang lain, termasuk dalam menempuh jalan kepada Allah (suluk), hanya akan berujung pada salah satu dari dua ujung kebinasaan. Pertama, jika hasil perbandinganmu positif, maka engkau akan merasa lebih baik dan lebih hebat dari orang lain. Namun, jika sebaliknya yang terjadi maka engkau jatuh dalam sifat iri hati.

Menurut penulis, kenali saja diri baik-baik. Kenali di jalan mana Allah telah menempatkan untuk menuju kemuliaan di sisi-Nya. Tempuh saja jalan tersebut dengan sebaik-baiknya, tak usah berpindah sebelum Allah sendiri yang  memindahkan.

Allah lebih tahu dan lebih bijak di jalan mana, Dia-lah yang menempatkan hambanya. Sekali lagi kenali diri di garis lurus mana ditempatkan, untuk bersuluk kepada Allah, hingga mencapai mencapai puncak kemuliaan di sisi-Nya. Wa Allah a’lam.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *